Deteksinews.co.id – Dunia hiburan tanah air kembali dihebohkan dengan langkah berani aktris Amanda Manopo dalam merambah dunia kreator konten edukasi. Melalui kanal YouTube bernama Zakema, aktris yang dikenal lewat sinetron populer ini mencoba menyajikan konten animasi untuk anak-anak bersama suaminya, Kenny Austin. Namun, niat baik tersebut sempat memicu gelombang kritik dari masyarakat, terutama terkait kualitas visual yang dianggap kurang tepat bagi tumbuh kembang anak.
Kritik tersebut muncul karena pergerakan visual dalam video animasi Zakema dinilai terlalu cepat. Para orang tua dan pengamat perkembangan anak mengkhawatirkan hal ini dapat memicu kondisi overstimulasi pada anak-anak yang menontonnya. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena stimulasi visual yang berlebihan dikhawatirkan dapat memengaruhi fokus dan kemampuan kognitif anak di masa depan.

Menanggapi polemik yang berkembang, Amanda Manopo menunjukkan sikap yang sangat dewasa dan terbuka. Alih-alih bersikap defensif atau menutup diri dari opini publik, bintang berusia 26 tahun ini justru menyambut baik setiap masukan yang masuk ke kanal mereka. Baginya, kritik yang datang, baik yang bersifat membangun maupun yang negatif, merupakan bagian dari proses evaluasi untuk meningkatkan kualitas konten yang dihasilkan.
Saat ditemui di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, Amanda mengungkapkan bahwa pembuatan kanal Zakema adalah sebuah perjalanan belajar yang panjang bagi dirinya dan tim. Ia menegaskan bahwa tujuan utama pembuatan konten ini bukan sekadar mencari popularitas, melainkan untuk memberikan edukasi yang bermanfaat. Konten tersebut ia dedikasikan tidak hanya untuk anak pertamanya, Baby Zac, tetapi juga untuk seluruh anak-anak di Indonesia agar mendapatkan tontonan yang berkualitas.
Sebagai langkah konkret untuk menjawab kekhawatiran para orang tua, Amanda mengambil keputusan besar dengan melibatkan tenaga profesional. Kini, setiap konten yang diproduksi oleh tim Zakema tidak langsung diunggah ke internet. Amanda memutuskan untuk melibatkan Dokter Spesialis Anak (DSA) dalam proses kurasi konten.
"Mulai sekarang, kami sudah melibatkan Dokter Spesialis Anak (DSA) yang mendampingi setiap pembuatan konten. Jadi, setelah konten selesai dibuat, kami akan menyerahkannya kepada dokter tersebut untuk diperiksa. Mereka yang akan menentukan apakah konten tersebut layak untuk diunggah atau tidak," jelas Amanda dengan tegas.
Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral Amanda sebagai orang tua sekaligus kreator. Ia ingin memastikan bahwa setiap detik visual yang ditonton oleh anak-anak adalah konten yang aman secara medis dan mendukung perkembangan saraf serta mental mereka.
Menutup penjelasannya, Amanda menceritakan bahwa awalnya kanal Zakema terbentuk hanya dari sebuah keisengan untuk menghibur sang buah hati. Namun, melihat kemajuan teknologi media yang begitu pesat, ia merasa memiliki kesempatan untuk menyebarluaskan konten positif tersebut ke khalayak yang lebih luas. Dengan adanya pendampingan medis, Amanda optimis Zakema dapat menjadi platform edukasi anak yang terpercaya dan aman bagi generasi mendatang.






