Deteksinews.co.id – Aktris ternama Kimberly Ryder baru-baru ini menyuarakan isu krusial mengenai kesehatan mental yang sering menghantui para perempuan setelah menikah dan menjadi ibu. Melalui pementasan monolog bertajuk ‘Aku Masih di Sini’ di Jakarta, ia secara mendalam menyoroti pergulatan batin seorang istri dan ibu yang kerap dihadapkan pada ekspektasi tinggi, menjadikannya rentan terhadap tekanan psikologis.
Kimberly Ryder, yang juga seorang ibu dari dua anak, mengamati bahwa perubahan drastis dalam kehidupan seorang wanita pasca-pernikahan seringkali menjadi pemicu kelelahan emosional yang signifikan. Ia menjelaskan bagaimana fokus hidup yang sebelumnya didedikasikan untuk pengembangan diri, mengejar cita-cita, dan menikmati hobi pribadi, kini harus bergeser total demi memenuhi kebutuhan serta tuntutan keluarga.

"Ketika kita sudah menjadi seorang istri, apalagi seorang ibu, kita yang tadinya punya mimpi-mimpi sendiri, harapan dan hobi, apa segala macam, harus shift ke peran yang berbeda, which is sebagai istri dan ibu," ujar Kimberly saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (22/9/2026), menegaskan pergeseran prioritas yang tak terhindarkan.
Tuntutan peran baru ini, lanjutnya, tak jarang membuat perempuan perlahan kehilangan esensi diri mereka. Kimberly mencontohkan karakter yang ia perankan dalam monolognya, seorang wanita yang dulunya sangat mencintai balet namun terpaksa mengesampingkan minatnya tersebut. Konsekuensinya, kondisi psikologisnya terganggu karena merasa terputus dari jati dirinya yang lama.
"Tapi sayangnya terkadang kita dalam peran baru ini kita ada kehilangan identitas diri kita sendiri. ‘Gua tahu banyak banget tentang anak-anak gua, tapi tentang diri sendiri kok kayaknya hilang ya semua itu’," tuturnya, menggambarkan perasaan hampa dan kebingungan identitas yang dialami banyak ibu rumah tangga.
Situasi ini diperparah oleh pandangan masyarakat yang kerap mengharuskan seorang ibu untuk selalu mengesampingkan kebahagiaan pribadinya demi keluarga. Menurut aktris berdarah Inggris ini, pola pikir semacam ini harus segera diluruskan. Ia menekankan bahwa para ibu rumah tangga tidak seharusnya merasa bersalah atau egois ketika meluangkan waktu untuk merawat diri sendiri, baik secara fisik maupun mental.
"Boleh lho kamu mencintai diri kamu sendiri, gak cuma mencintai anak-anak kamu doang 100 persen. Memang iya, kita sayang banget sama anak-anak kita, tapi kita juga harus sayang sama diri kita sendiri," tegasnya, menyerukan pentingnya keseimbangan antara kasih sayang untuk keluarga dan perhatian terhadap diri sendiri.
Kakak dari Natasha Ryder ini juga menggarisbawahi urgensi bagi kaum hawa untuk terus bangkit dari keterpurukan dan belajar melepaskan tekanan yang membebani, tanpa harus terjerat oleh standar kesempurnaan yang seringkali tidak realistis. Setiap perempuan, menurutnya, berhak menentukan batas kemampuan mentalnya tanpa harus takut akan penilaian atau stigma dari orang lain.
"Kita coba lagi, kita coba lagi, dan besok kita bisa lebih baik lagi sebagai seorang istri, sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu, dan supaya lebih baik lagi ke depannya, lebih waras lagi. Karena semua orang punya jalan mereka sendiri, punya struggle-nya mereka sendiri," pungkasnya, memberikan semangat dan validasi bahwa setiap individu memiliki perjuangan uniknya masing-masing.
Pementasan monolog ‘Aku Masih di Sini’ yang diperankan oleh Kimberly Ryder dalam perhelatan MonoPlay Festival di Jakarta ini diharapkan mampu menjadi pengingat penting. Pesan kuat tentang kesehatan mental ibu rumah tangga, identitas diri, dan pentingnya mencintai diri sendiri diharapkan dapat menjangkau lebih banyak perempuan, mendorong mereka untuk mencari dukungan dan menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.






