Menguak Rahasia Ruben Onsu: Senyum di TV, Air Mata di Hati
Deteksi News – Siapa sangka di balik tawa renyah dan senyum sumringah yang selalu menghiasi layar kaca, tersimpan sebuah kisah pilu dan beban berat yang dipikul oleh presenter kondang Ruben Onsu? Dalam sebuah momen yang jarang terungkap, Ruben Onsu, sosok yang akrab dengan jutaan pemirsa, membuka tirai di balik gemerlap profesinya. Di hadapan jemaah masjid di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mantan suami Sarwendah ini membagikan pergulatan batinnya, sebuah pengakuan jujur tentang tuntutan profesionalisme yang kerap memaksanya tersenyum, bahkan saat hatinya menjerit.

Ruben menguraikan, sepanjang perjalanan kariernya di industri hiburan, ia tak jarang dihadapkan pada situasi di mana gejolak emosi pribadinya harus diredam demi menjaga citra di depan kamera. Ia mengakui, ada kalanya ia harus memaksakan diri memasang wajah ceria, semata-mata untuk menyenangkan penonton dan memenuhi tanggung jawab pekerjaannya. "Makanya Alhamdulillah, saya bisa melewati semua tahapan dalam hidup saya itu dengan tenang. Di mana hati yang harus berusaha tersenyum, walaupun itu tidak sesuai dengan pikiran dan hati yang kita rasakan ya," ungkap Ruben dengan nada sendu, mengutip pernyataannya di Kebayoran Lama, seperti yang dilansir deteksinews.co.id.
Bagi Ruben, peran sebagai seorang pembawa acara bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah amanah untuk menyebarkan energi positif. Ia menyadari betul, kehadirannya di hadapan publik adalah untuk membawa keceriaan, sehingga tak mungkin baginya untuk terus-menerus membiarkan kesedihan pribadinya merasuki ruang publik. "Tapi pekerjaan saya sebagai seorang presenter, saya harus menghibur orang, saya harus bertemu dengan banyak orang, masa setiap ketemu orang saya nangis? Enggak kan?" tuturnya, menggambarkan dilema yang ia hadapi.
Namun, di balik beratnya tuntutan tersebut, presenter berusia 42 tahun ini justru menemukan kekuatan tak terduga. Ia mengaku, energi positif dan senyuman yang ia berikan kepada orang lain, ternyata berbalik menjadi sumber kekuatan baginya. Sebuah senyuman tulus dari pemirsa, seringkali menjadi pengingat bahwa ia tidak sendiri dalam perjuangannya. "Tapi saya harus memberikan senyuman karena itu yang mereka inginkan. Tapi dari situ saya belajar, ternyata masih banyak orang di luar sana yang mau memberikan senyuman buat saya. Jadi saya gak merasa sendiri. Jadi Allah selalu ada dalam langkah saya," terang Ruben, menggarisbawahi keyakinannya akan kehadiran ilahi.
Selain pergulatan profesionalitas, ayah tiga anak ini juga menyinggung tentang perubahan signifikan dalam pola hidupnya menghadapi tekanan. Jika dulu ia kerap berkeluh kesah kepada teman, kini ia memilih jalur spiritual yang lebih mendalam. Mengadu kepada Sang Pencipta melalui ibadah, menjadi prioritas utamanya dalam mencari ketenangan dan solusi. "Jadi sekarang itu kalau saya ada apa-apa udah jarang curhat sama teman. Yang pertama itu harus lapor, titik. Kalau dulu kita telepon orang, gak diangkat kita bete. ‘Ke mana sih lo? Gue lagi kesel!’ Gak ada. Sekarang lapor dulu," pungkasnya, menunjukkan kedewasaan spiritual yang ia capai.
Kisah Ruben Onsu ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di balik gemerlap panggung dan sorotan kamera, ada sisi manusiawi yang berjuang. Sebuah pelajaran berharga tentang kekuatan senyuman, makna profesionalisme, dan pentingnya menemukan sandaran spiritual di tengah badai kehidupan.






