Mandra Terharu: Seni Betawi Kini di Tangan Generasi Emas!

Celina

Celina

Mandra Terharu: Seni Betawi Kini di Tangan Generasi Emas!

Deteksi News – Seniman legendaris Betawi, Mandra, baru-baru ini tak bisa menyembunyikan rasa bangganya yang meluap-luap. Di tengah hiruk pikuk modernisasi yang kerap mengancam kelestarian budaya, ia justru menyaksikan sebuah fenomena indah: seni dan budaya Betawi kini didominasi dan dikembangkan oleh para anak muda dengan semangat serta talenta luar biasa. Ini adalah kabar gembira yang menghangatkan hati bagi kelestarian warisan budaya Jakarta yang tak ternilai.

Mandra, yang dikenal lewat peran-peran ikoniknya di layar kaca, mengungkapkan bahwa dulu kesenian Betawi seringkali diasosiasikan dengan kalangan sepuh atau orang tua. Namun, kini pandangan itu telah bergeser drastis. Ia melihat sendiri bagaimana generasi milenial dan Gen Z mampu mengolah seni tradisional dengan sentuhan yang lebih "canggih, hebat, dan terampil." Ini bukan sekadar regenerasi biasa, melainkan sebuah revolusi kreatif yang menjanjikan masa depan cerah bagi budaya Betawi. "Ya kalau saya jelas saya terima positif. Bahkan tadi seperti saya bilang, pengembangan-pengembangan seni budaya Betawi ini malah yang dulu dilakukan cuma… anggaplah bahasanya orang sepuh gitu ya, malah saya bisa membuktikan sekarang dengan… dari mulai tari Betawi, musik-musik Betawi malah sekarang sudah dilakukan dengan generasi yang sekarang ini yang lebih canggih, lebih hebat, lebih terampil dengan anak-anak muda sekarang," tutur Mandra saat ditemui di Studio Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Minggu (21/6/2026), seperti dilansir deteksinews.co.id.

Mandra Terharu: Seni Betawi Kini di Tangan Generasi Emas!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Antusiasme ini, lanjut Mandra, bukanlah isapan jempol belaka. Ia kerap menyaksikan anak-anak usia dini sudah menunjukkan bakat dan kecerdasan luar biasa dalam menyerap ilmu seni Betawi. Mereka tidak hanya cepat belajar, tetapi juga mampu menyajikan pertunjukan dengan kualitas yang memukau. "Karena animo untuk penari aja satu contoh, nggak sedikit sekarang. Artinya usia sampai yang bahasanya 10 tahun aja itu udah bisa… bisa kita lihat kecerdasannya masing-masing. Kira-kira gitu," ujarnya, menggambarkan betapa cepatnya generasi baru ini menguasai panggung dan melestarikan tradisi.

Meski demikian, Mandra memiliki prinsip kuat dalam mendidik anak-anaknya sendiri. Ia tidak pernah memaksakan buah hatinya untuk mengikuti jejaknya di dunia seni. Baginya, kebebasan adalah kunci utama. Ia percaya bahwa kecintaan terhadap budaya harus tumbuh secara alami, bukan karena paksaan. "Kalau saya nggak. Ya si anak tadi kan kalau masih anak-anak ya, ya saya nggak tekankan. Tapi buat orang yang… ya adik-adik, anak-anak saya yang udah kuliah kan nggak perlu saya lontarkan, mungkin apa yang dia lihat itu yang mesti dia harus pegang," jelasnya, menunjukkan kebijaksanaan seorang ayah.

Kecintaan terhadap budaya, menurut Mandra, adalah panggilan jiwa yang tak bisa dipaksakan. Ia meyakini bahwa rasa memiliki terhadap kesenian tradisional harus lahir dari kesadaran dan keinginan pribadi yang tulus. "Seperti apa yang tadi saya bilang kan, ya kalau bicara masalah itu kan biasanya munculnya kan dari hati. Dari hati sendiri. Nggak perlu kita paksa dan lain sebagainya, nggak ada saya," pungkasnya, memberikan pesan mendalam tentang esensi sejati dalam melestarikan warisan leluhur.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar