Deteksinews.co.id – Dunia seni dan budaya Indonesia kembali berduka atas kepergian salah satu maestro terbaiknya, Guruh Soekarnoputra. Di tengah suasana duka yang menyelimuti, diva pop kenamaan, Kris Dayanti (KD), membagikan kenangan mengharukan tentang pertemuannya dengan almarhum sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir. Pengakuan ini tidak hanya mengungkap kedekatan emosional mereka, tetapi juga sebuah amanat penting yang kini diemban oleh KD.
Kris Dayanti mengungkapkan bahwa ia sempat menjenguk Guruh di Rumah Sakit Medistra pada tanggal 15 September lalu. Kunjungan tersebut, yang kini menjadi memori terakhir yang tak terlupakan, dipenuhi dengan kehangatan dan nuansa seni yang kental. Dalam momen intim itu, KD tak hanya sekadar hadir sebagai penengok, melainkan juga membawa serta sebuah penghormatan musikal. Ia mengajak almarhum Guruh untuk bernyanyi bersama, melantunkan salah satu karya fenomenalnya yang berjudul "Renjana."

"Kenangannya kemarin tanggal 15 saya masih besuk di Medistra dan saya masih ajak nyanyi lagu Renjana, lagu ciptaan beliau. Saya masih kirim bantal dan masih dipakai," tutur Kris Dayanti dengan suara bergetar, saat ditemui di kawasan Jakarta pada Sabtu (26/9). Pernyataan ini memberikan gambaran betapa Guruh tetap bersemangat dan responsif terhadap seni hingga akhir hayatnya, bahkan di tengah kondisi kesehatan yang menurun. Momen tersebut menjadi saksi bisu kedekatan emosional antara dua insan seni lintas generasi, sebuah perpisahan yang diwarnai oleh melodi dan kenangan indah.
Namun, di balik lantunan lagu dan kehangatan pertemuan, tersimpan sebuah pesan mendalam yang disampaikan Guruh Soekarnoputra kepada Kris Dayanti. Pesan ini bukan sekadar wejangan biasa, melainkan sebuah amanat yang sarat makna, berkaitan erat dengan kelestarian seni, budaya, dan rasa cinta Tanah Air. "Alhamdulillah beliau di detik-detik akhir ajalnya masih sangat-sangat berpesan bahwa saya harus terus memajukan budaya, seni, dan terus mencintai, menggelorakan budaya dan juga cinta Tanah Air," jelas KD, mengulang kembali kata-kata Guruh yang kini menjadi warisan berharga baginya. Amanat ini mencerminkan dedikasi Guruh seumur hidupnya terhadap kekayaan identitas bangsa, sebuah semangat yang tak pernah padam hingga napas terakhirnya.
Guruh Soekarnoputra sendiri dikenal luas sebagai salah satu tokoh sentral dalam perkembangan seni dan budaya Indonesia modern. Sebagai putra bungsu Presiden pertama RI, Soekarno, ia tidak hanya mewarisi darah kepemimpinan, tetapi juga bakat seni yang luar biasa. Guruh adalah seorang komposer, koreografer, penari, dan budayawan yang karyanya telah memperkaya khazanah seni Tanah Air. Dari penciptaan lagu-lagu pop yang ikonik hingga pementasan sendratari kolosal yang memukau, Guruh selalu berupaya memadukan tradisi lokal dengan sentuhan modern, menciptakan karya yang relevan dan abadi. Semangatnya untuk terus menggali dan memperkenalkan keindahan budaya Indonesia kepada dunia adalah warisan tak ternilai yang kini diemban oleh generasi penerus.
Kris Dayanti, sebagai salah satu diva yang telah lama berkecimpung di industri musik, mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan karya-karya Guruh. Hubungan ini bukan hanya sebatas profesional, melainkan juga personal, mengingat bagaimana lagu-lagu Guruh telah menemani dan membentuk perjalanan kariernya. Salah satu lagu ciptaan Guruh yang paling berkesan bagi KD adalah "Mahadaya Cinta," sebuah komposisi yang hingga kini masih rutin ia bawakan di berbagai panggung musik. Lagu ini tidak hanya menjadi bagian dari repertoar pribadinya, tetapi juga simbol dari apresiasinya terhadap kejeniusan Guruh dalam merangkai melodi dan lirik yang menyentuh jiwa. Setiap kali membawakan "Mahadaya Cinta," KD merasa seperti meneruskan semangat dan pesan yang terkandung di dalamnya, sebuah penghormatan abadi kepada sang maestro.
Kepergian Guruh Soekarnoputra meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan seluruh insan seni Indonesia. Namun, warisan pemikiran dan karya-karyanya akan terus hidup dan menginspirasi. Pesan terakhirnya kepada Kris Dayanti adalah pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga dan memajukan budaya sebagai pilar identitas bangsa. Di tengah gempuran arus globalisasi, semangat untuk mencintai dan menggelorakan budaya Tanah Air menjadi semakin relevan. Para seniman seperti Kris Dayanti, dengan dedikasi dan komitmen mereka, diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam melestarikan api semangat yang telah dinyalakan oleh Guruh Soekarnoputra.
Momen terakhir di Rumah Sakit Medistra, di mana lagu "Renjana" kembali berkumandang dari bibir Guruh dan KD, bukan sekadar perpisahan biasa. Itu adalah sebuah serah terima obor semangat, dari seorang maestro kepada penerusnya, dari seorang pelestari budaya kepada seorang diva yang siap melanjutkan perjuangan. Kenangan akan Guruh Soekarnoputra akan selalu abadi, tidak hanya dalam setiap nada dan gerak tari karyanya, tetapi juga dalam hati setiap individu yang terinspirasi oleh dedikasi tak terbatasnya terhadap seni dan budaya Indonesia. Dunia seni kehilangan seorang pahlawan, namun warisannya akan terus bersinar terang, membimbing langkah kita menuju masa depan yang lebih berbudaya.






