Deteksi News – Publik dibuat penasaran dengan keputusan tak terduga dari musisi dan penulis kenamaan, Fiersa Besari. Setelah insiden sang istri tercinta, Aqia, menjadi korban tabrak lari di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Fiersa justru memilih untuk mencabut laporan polisi. Sebuah langkah yang bukan hanya mengejutkan, tetapi juga menyimpan narasi mendalam tentang kemanusiaan, kebijaksanaan, dan prioritas keluarga.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu (3/1/2026). Saat itu, Aqia tengah menurunkan koper dari bagasi taksi bersama Ubay, manajer Fiersa. Tiba-tiba, sebuah mobil menabrak mereka dari belakang. Fiersa sendiri, pada momen genting itu, sedang menggendong putri kecilnya yang terlelap, membuat situasi semakin menegangkan. Beruntung, setelah dilarikan ke rumah sakit, Aqia dipastikan tidak mengalami cedera serius seperti retak atau patah tulang. Dari sinilah, sebuah dilema besar muncul di benak keluarga kecil tersebut.

Awalnya, emosi Fiersa sempat memuncak. Naluri seorang suami dan ayah mendorongnya untuk memperpanjang urusan ini ke jalur hukum. Namun, seperti yang ia curahkan melalui unggahan di Instagram Story pribadinya yang dilihat oleh deteksinews.co.id pada Minggu (4/1/2026) malam, sang istri, Aqia, justru memiliki pandangan berbeda. "Saya sendiri awalnya ingin memperpanjang urusan, tapi Aqia tidak mau. Ubay juga memberi pertimbangan logis," tulis Fiersa, menggambarkan dinamika internal yang mereka hadapi.
Pertimbangan logis yang dimaksud ternyata menyentuh sisi kemanusiaan. Terungkap, pengemudi penabrak ternyata bukan dari kalangan berada. Namun, ucapan dan tawaran kompensasi sebesar Rp 200 ribu yang terkesan meremehkan, sontak memicu kekesalan Fiersa. "Mohon maaf, tapi kita sama-sama tahu, solusi yang biasanya dihadirkan orang berada, tidak seperti itu," ujarnya. Fiersa menambahkan, pengemudi tersebut mengaku hanya memiliki uang segitu, bahkan mobil yang dikendarainya pun pinjaman dan terlihat tidak terawat.
Pelantun "Komedi Tragis" itu kemudian merenungkan apa yang akan menjadi ujung dari proses hukum yang panjang. Memperpanjang proses, penyitaan kendaraan, bolak-balik berurusan dengan pihak kepolisian, Fiersa merasa hal itu tidak akan memberikan efek jera. "Bukan memberikan efek jera, melainkan memberi efek dendam. Dan tetap saja, Aqia sebagai korban juga belum tentu akan mendapatkan ganti rugi secara materi," jelas Fiersa, memaparkan solusi yang dirasa paling ideal bagi mereka. Ia menambahkan, si penabrak sudah mendapat sanksi tilang, dan itu dirasa sudah cukup untuk Aqia.
Keputusan mencabut laporan ini, bagi Fiersa, bukan berarti memaafkan secara instan. "Pencabutan laporan, bukan berarti memaafkan karena perihal keikhlasan, bukan paksaan," tegasnya, menunjukkan kedalaman emosi dan pemahaman akan proses batin. Kini, prioritas utama Fiersa Besari adalah fokus pada pemulihan kondisi sang istri.
Lebih dari sekadar insiden, kejadian ini juga menjadi pengingat dan pelajaran berharga bagi Fiersa dan keluarganya. "Kesimpulan yang bisa diambil, dan ini termasuk untuk orang-orang di keluarga kami juga. Ada baiknya lansia di keluarga kita dimonitor, apakah masih kondusif untuk berkendara atau tidak," pesan Fiersa Besari, menutup curhatannya dengan sebuah refleksi universal tentang keselamatan dan tanggung jawab bersama. Sebuah keputusan yang mungkin kontroversial di mata sebagian orang, namun sarat makna dan pelajaran hidup dari seorang Fiersa Besari.






