Deteksinews.co.id – Dunia hiburan tanah air kerap kali disorot bukan hanya karena kemilau lampu panggung atau pesona para bintangnya, melainkan juga dinamika kerja keras di balik layar. Menanggapi hal tersebut, aktris berbakat Cinta Laura memberikan sebuah pesan mendalam yang ditujukan khusus bagi rekan-rekan sesama pelaku industri hiburan. Ia mengajak para aktor dan aktris untuk menanggalkan ego pribadi dan mulai menumbuhkan rasa empati yang tinggi terhadap para kru produksi.
Menurut Cinta, sering kali terdapat ketimpangan perspektif antara pemain di depan kamera dengan tim teknis yang bekerja di belakang layar. Ia menekankan bahwa para pemeran utama sebenarnya tidak memiliki hak untuk banyak mengeluh mengenai kondisi di lokasi syuting. Hal ini dikarenakan beban kerja serta jam operasional yang paling berat justru ditanggung oleh tim kru yang memastikan seluruh kebutuhan produksi terpenuhi dari awal hingga akhir.

"Kru adalah pihak yang paling lelah. Kita sebagai pemain sebenarnya tidak berhak untuk mengeluh sedikit pun. Sebab, merekalah yang selalu datang paling pagi dan menjadi orang terakhir yang pulang. Banyak sekali ketidaknyamanan yang mereka hadapi demi kelancaran sebuah produksi," ujar Cinta Laura saat berbincang di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).
Lebih lanjut, aktris blasteran Jerman-Indonesia ini menjelaskan bahwa bentuk dukungan nyata dari seorang aktor kepada kru tidak melulu soal materi. Meskipun memberikan dukungan berupa makanan bisa menjadi hal yang manis, namun yang jauh lebih krusial adalah sikap atau attitude yang baik selama berada di set. Cinta berharap para pemain dapat menjaga perilaku agar tidak menambah beban mental atau kesulitan bagi para kru yang sudah bekerja keras.
Menariknya, kesadaran akan pentingnya empati ini tidak muncul secara instan dalam diri Cinta Laura. Ia mengakui bahwa saat memulai kariernya di usia yang sangat belia, yakni 12 tahun, ia belum memiliki kepekaan terhadap dinamika kerja keras tim produksi. Sebagai anak-anak, ia hanya fokus pada perannya tanpa menyadari kompleksitas di balik sebuah karya.
Namun, seiring bertambahnya usia dan jam terbang, ia mulai memahami bahwa sebuah karya besar adalah hasil dari upaya kolaboratif (collaborative effort), bukan sekadar kerja individu seorang bintang. Baginya, kedewasaan seseorang seharusnya diukur dari kemampuannya untuk menurunkan ego dan meningkatkan kepedulian terhadap orang lain di lingkungan kerja.
"Mungkin sebagai dewasa muda pada umumnya, dulu saya tidak sepeka ini terhadap kebutuhan semua orang. Namun, semakin kita memahami dunia, kita tidak boleh menjadi pribadi yang egois. Kita harus memiliki empati untuk memikirkan orang lain," tutupnya dengan tegas. Pesan ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh insan kreatif agar selalu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di tengah kerasnya tuntutan industri.






