Tangis Histeris Karina Ranau Cari Keadilan

Celina

Celina

Tangis Histeris Karina Ranau Cari Keadilan

Deteksinews.co.id – Suasana di depan Polsek Pancoran, Jakarta Selatan, mendadak pecah oleh isak tangis yang memilukan. Aktris senior Karina Ranau tak mampu lagi membendung emosinya saat mendatangi kantor polisi tersebut pada Rabu (4/11/2026). Didampingi tim kuasa hukum, wanita yang dikenal tegar ini menunjukkan kerapuhan yang mendalam demi menuntut kejelasan atas kasus dugaan penganiayaan yang menjerat dirinya.

Dengan suara yang bergetar hebat, Karina meluapkan rasa frustrasinya terhadap lambannya penanganan hukum atas peristiwa yang menimpanya sejak Juni 2026 lalu. Ia merasa seolah-olah suaranya sebagai korban tidak didengar hanya karena ia tidak memiliki koneksi dengan orang-orang berkuasa.

Tangis Histeris Karina Ranau Cari Keadilan
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Saya tidak punya siapa-siapa. Saya tidak punya orang besar di balik saya. Tapi saya ingin menuntut keadilan untuk diri saya sendiri," ujar Karina dengan mata sembap. Ia menekankan bahwa sebagai warga negara, ia berhak mendapatkan kepastian hukum yang cepat dan transparan.

Kekecewaan Karina semakin memuncak ketika ia mengenang kondisi pribadinya saat ini. Pasca berpulangnya sang suami, aktor Epy Kusnandar, Karina kini harus berjuang sendirian menghadapi badai persoalan ini. Tangisnya pecah menjadi histeria saat ia menegaskan statusnya sebagai korban yang membutuhkan perlindungan nyata dari negara.

"Saya ini korban! Saya tidak punya siapa-siapa lagi! Suami saya sudah tiada!" serunya di tengah isak tangis yang menyayat hati.

Selama berbulan-bulan, Karina mengaku telah bersikap sangat kooperatif. Ia telah mengikuti seluruh prosedur dan tahapan hukum yang ditetapkan oleh pihak kepolisian. Namun, ketidakpastian yang berlarut-larut membuat kondisi psikisnya semakin terpuruk. Ia merasa proses hukum ini seperti berjalan di tempat, maju-mundur tanpa titik terang yang pasti.

Dampak dari kekerasan yang dialaminya tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang mendalam. Meski ia berusaha tetap produktif mengelola bisnis kulinernya, Karina mengaku kesehatan mentalnya sangat terganggu. Ia bahkan harus bergantung pada obat-obatan setiap malam agar bisa memejamkan mata.

"Saya sudah mencoba terlihat baik-baik saja. Setiap malam saya bekerja di warung, tapi saat pulang, saya tidak bisa tidur. Saya harus minum obat supaya bisa beristirahat," ungkapnya dengan nada memelas.

Sebagai penutup sebelum memasuki ruang pemeriksaan, Karina menyampaikan pesan menyentuh kepada jajaran kepolisian dan para pemangku kebijakan. Ia memohon agar keadilan segera ditegakkan agar ia bisa kembali hidup dengan tenang.

Peristiwa penganiayaan ini sendiri bermula pada 15 Juni 2026 di Warung Jukut Goreng Samali, milik Karina, di kawasan Kalibata. Insiden dipicu oleh seorang pria yang memaksa memesan makanan sebelum jam operasional dimulai dan bersikap tidak terima saat ditegur terkait posisi kendaraannya yang menghalangi ruko tetangga. Pelaku yang emosional kemudian melakukan tindakan kekerasan dengan mencengkeram dan mendorong Karina hingga jatuh tersungkur ke aspal. Melansir laporan dari deteksinews.co.id, kasus ini kini menjadi perhatian publik yang menanti penyelesaian tuntas.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar