Deteksi News – Hai, Sahabat! Di era digital yang serba cepat ini, kita dihujani informasi tanpa henti. Namun, di balik kemudahan akses tersebut, ada bahaya yang mengintai kesehatan mental dan kecerdasan kita: doomscrolling dan brain rot. Pernahkah Anda merasa cemas berlebihan atau kesulitan fokus? Mungkin ini gejalanya.
Istilah "doomscrolling" muncul sekitar tahun 2020, saat pandemi COVID-19. Ini menggambarkan kebiasaan terus-menerus membaca berita negatif di internet atau media sosial, seakan tak bisa berhenti. Sementara "brain rot" menggambarkan penurunan kemampuan berpikir kritis akibat penggunaan teknologi berlebihan dan konsumsi informasi dangkal.

Meskipun berkaitan, keduanya punya fokus dan dampak berbeda. Doomscrolling, adalah kebiasaan menghabiskan waktu berlebih membaca berita negatif online. Ini didorong oleh bias negatif—kecenderungan memperhatikan informasi buruk—dan fear of missing out (FOMO). Kecemasan di tengah ketidakpastian global juga memperparah hal ini. Akibatnya? Stres, ketakutan, depresi, dan isolasi meningkat.
Brain rot, atau "pembusukan otak," adalah penurunan kemampuan kognitif: analisis, memori, dan daya ingat melemah akibat penggunaan teknologi berlebihan. Gejalanya: kesulitan berkonsentrasi, mengingat informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan. Otak menjadi terbiasa dengan informasi instan dan dangkal, sehingga kesulitan memproses informasi kompleks. Ini memengaruhi produktivitas dan interaksi sosial.
Doomscrolling bisa jadi penyebab brain rot, tapi brain rot bisa terjadi tanpa doomscrolling. Doomscrolling adalah perilaku, sementara brain rot adalah kondisi kognitif.
Bagaimana mengatasinya? Batasi waktu online, pilih sumber berita terpercaya, berhenti sejenak saat merasa cemas, cari informasi positif, lakukan kegiatan offline, latih kemampuan berpikir kritis, dan istirahat cukup. Jika gejala sudah mengganggu, konsultasikan dengan profesional. Prioritaskan kesejahteraan digital Anda untuk hidup yang lebih seimbang dan produktif.






