Deteksi News – Pernahkah Anda, para orang tua, merasakan dilema ini? Anak Anda berperilaku sangat baik di sekolah, rumah saudara, atau tempat umum, namun berubah drastis begitu berada di rumah? Tiba-tiba mengamuk, menangis, membantah, bahkan berteriak. Jangan merasa sendirian, fenomena ini ternyata sangat umum terjadi dan ada penjelasannya. Ini bukan berarti anak Anda berpura-pura atau bermuka dua.
Rumah, bagi anak, adalah zona aman. Mereka belum memiliki kemampuan mengelola emosi sebaik orang dewasa. Di luar rumah, mereka berusaha menahan perasaan, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan harapan orang lain. Namun, begitu kembali ke rumah, "benteng" kesayangan mereka, semua emosi yang terpendam sepanjang hari "meledak" tanpa filter. Mereka merasa aman untuk menjadi diri sendiri, mengekspresikan emosi sesungguhnya tanpa takut dihakimi. Meskipun terlihat menyebalkan, tantrum atau ledakan emosi ini sebenarnya menunjukkan kepercayaan dan kenyamanan anak terhadap orang tua. Mereka tahu, bagaimanapun perilakunya, tetap dicintai.

Ini menjadi ujian bagi kita sebagai orang tua. Anak seringkali menjadikan kita sebagai sasaran kemarahan atau kekecewaan, bukan karena membenci, melainkan karena merasa paling aman dan bebas di dekat kita. Tantangannya adalah tetap tenang dan tidak langsung menganggap perilaku anak sebagai ketidaksopanan. Kita perlu belajar membedakan antara perilaku yang perlu dikoreksi dan ekspresi emosi yang perlu dipahami. Menangis, menolak, atau berteriak belum tentu memberontak; mungkin ia kelelahan secara emosional setelah seharian "berjuang" menjadi anak baik.
Daripada memarahi atau membandingkan ("Kenapa di rumah kamu begini, padahal di sekolah tidak?"), lebih baik bantu anak mengenali perasaannya. Ajarkan mereka memberi nama pada emosi – marah, sedih, kecewa, lelah. Semakin mengenal emosi sendiri, semakin mudah mengelola. Buatlah jurnal gambar emosi, baca buku cerita bertema emosi, atau berdialog dengan empati setelah anak tenang. Kemampuan regulasi emosi perlu diajarkan dan dicontohkan secara konsisten.
Ciptakan rutinitas dan waktu koneksi emosional. Rutinitas memberikan rasa aman karena anak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, menghindari kejutan yang memicu kecemasan dan ledakan emosi. Waktu berkualitas bersama, seperti bercerita sebelum tidur atau bermain bersama, membuat anak merasa dipahami dan dicintai. Anak yang cukup perhatian dan koneksi di rumah cenderung lebih tenang.
Perilaku anak yang berbeda di rumah dan di luar bukanlah tanda ia manipulatif atau "nakal hanya di rumah". Sebaliknya, itu pertanda rumah adalah tempat pelepasan emosi yang tak bisa ditunjukkan di tempat lain. Kita, orang tua, adalah tempat berlindung, dan terkadang, tempat pelampiasan karena rasa aman itu sendiri. Jadikan momen ini sebagai peluang untuk lebih mengenal anak, mempererat hubungan, dan membimbing mereka menghadapi emosi dengan sehat. Dengan pemahaman dan kesabaran, rumah bukan hanya tempat meledakkan emosi, tetapi juga tempat belajar menenangkan dan menyembuhkan diri.






