Deteksi News – Sebagai orang tua, kita semua mendambakan yang terbaik untuk anak-anak kita. Kita ingin mereka tumbuh sehat, bahagia, dan sukses. Namun, terkadang, tanpa kita sadari, pola pengasuhan kita justru bisa menjadi penghalang bagi perkembangan mereka. Salah satu pola asuh yang perlu kita waspadai adalah uninvolved parenting, atau pengasuhan yang minim keterlibatan.
Uninvolved parenting bukanlah sekadar orang tua yang sibuk bekerja. Ini adalah pola asuh yang ditandai dengan kurangnya perhatian, kasih sayang, dan keterlibatan emosional orang tua dalam kehidupan anak. Meskipun kebutuhan dasar anak seperti makanan dan tempat tinggal terpenuhi, kebutuhan emosional dan psikologisnya justru diabaikan. Orang tua dengan pola asuh ini mungkin tidak mengetahui detail kehidupan anak, seperti teman-temannya, prestasi di sekolah, atau bahkan kesukaannya. Anak dibiarkan tumbuh sendirian, tanpa bimbingan, arahan, atau bahkan konsekuensi atas perilaku mereka. Ini bukan kebebasan, melainkan pengabaian.

Lalu, apa yang menyebabkan uninvolved parenting? Penyebabnya beragam, mulai dari trauma masa lalu orang tua, masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan, hingga tekanan ekonomi dan pekerjaan yang berlebihan. Kurangnya pengetahuan atau keterampilan pengasuhan yang memadai juga bisa menjadi faktor penyebab. Kadang, orang tua merasa cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan fisik anak, tanpa menyadari pentingnya kehadiran emosional.
Dampak dari uninvolved parenting sangat serius. Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini berisiko mengalami masalah emosional, seperti merasa tidak dicintai, tidak berharga, dan kesulitan membangun harga diri. Mereka mungkin menjadi tertutup, kesepian, atau bahkan mengalami gangguan kecemasan. Sosialnya pun terganggu, kesulitan menjalin hubungan yang sehat, dan prestasi akademiknya menurun. Perilaku impulsif atau sulit diatur juga sering muncul karena kurangnya batasan dan arahan. Dampak ini bisa berlanjut hingga dewasa jika tidak ditangani.
Apakah uninvolved parenting bisa diubah? Tentu saja! Langkah pertama adalah menyadari bahwa pola asuh tersebut sedang terjadi. Setelah itu, mulailah dengan langkah kecil, seperti meluangkan waktu berkualitas bersama anak, mendengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, dan menunjukkan perhatian melalui gestur sederhana. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional, seperti konselor atau terapis keluarga, jika diperlukan. Yang terpenting adalah kesediaan untuk berubah dan hadir sepenuhnya untuk anak.
Ingatlah, menjadi orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik. Anak-anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan kehadiran emosional yang hangat. Uninvolved parenting mungkin terjadi tanpa disadari, namun dampaknya bisa sangat besar. Mari kita semua berupaya menciptakan lingkungan yang aman, hangat, dan mendukung bagi anak-anak kita, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan bahagia. Hadirlah sepenuh hati, karena itu adalah investasi terbaik untuk masa depan mereka dan hubungan kita.






