Anak Rewel? Waspada Overstimulasi!

Nuraini

Nuraini

Anak Rewel? Waspada Overstimulasi!

Deteksi News – Ayah Bunda, pernahkah melihat si kecil tiba-tiba rewel, marah-marah, atau gelisah tanpa sebab? Mungkin ia baru saja pulang dari acara ramai, atau seharian bermain. Jangan langsung menyimpulkan itu hanya kelelahan biasa. Bisa jadi, buah hati kita mengalami overstimulasi.

Di zaman sekarang, anak-anak terpapar banyak rangsangan: suara bising, cahaya terang, keramaian, bahkan gadget. Kita sebagai orang dewasa mungkin terbiasa, tapi anak-anak, terutama balita, masih belajar mengelola sensasi dan emosi. Ketika otak dan tubuhnya kewalahan memproses semua itu, muncullah tanda-tanda yang sering kita lewatkan. Memahami ini penting, bukan hanya untuk kenyamanan anak, tapi juga untuk membangun hubungan lebih hangat dengan mereka.

Anak Rewel? Waspada Overstimulasi!
Gambar Istimewa : cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Berikut beberapa tanda overstimulasi pada anak, berdasarkan deteksinews.co.id dan sumber terpercaya lainnya: rewel atau menangis tanpa sebab (padahal kebutuhan dasar terpenuhi), menghindari kontak mata (menutup mata atau menoleh), gerakan tubuh tak terkoordinasi (tangan berayun, kaki bergerak tanpa tujuan), menggenggam tangan erat, dan mencari kenyamanan ekstra (ingin selalu dipeluk).

Penyebabnya beragam. Lingkungan ramai (pesta ulang tahun, tempat umum), paparan layar elektronik (TV, tablet, ponsel), perubahan rutinitas mendadak (waktu tidur, makan), kelelahan, dan kurang tidur, semuanya bisa memicu overstimulasi.

Lalu bagaimana mengatasinya? Tenang, Ayah Bunda. Bawa anak ke tempat tenang dan minim rangsangan (kamar tidur, ruang familiar), redupkan lampu, kurangi suara bising, berikan waktu istirahat (tidur siang), hindari gadget, dan tenangkan anak dengan sentuhan lembut dan kata-kata penyemangat.

Jangan anggap sepele overstimulasi. Jika terus-menerus terjadi, anak bisa jadi lebih sensitif, sulit tidur, susah konsentrasi, cemas, bahkan mengalami gangguan perkembangan emosi dan sosial.

Pencegahannya? Ciptakan lingkungan seimbang, tidak terlalu ramai atau sepi. Batasi waktu di tempat ramai, sediakan ruang tenang di rumah, atur waktu bermain, batasi gadget, dan perhatikan reaksi anak terhadap rangsangan.

Ayah Bunda, kita punya peran penting. Jadilah pendengar yang baik, berikan pelukan hangat, ciptakan rutinitas konsisten, dan bangun komunikasi yang baik. Dengan begitu, anak akan lebih mudah mengelola perasaan dan berkembang dengan optimal.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar