Trauma Masa Kecil Picu Fobia Ferry Maryadi

Celina

Celina

Trauma Masa Kecil Picu Fobia Ferry Maryadi

Deteksinews.co.id – Aktor berbakat Ferry Maryadi baru-baru ini membagikan sisi rapuh dari kehidupan pribadinya kepada publik. Di balik keceriaannya sebagai anggota klub motor The Prediksi, Ferry ternyata sempat berjuang melawan gangguan psikologis berupa claustrophobia, yakni ketakutan berlebih terhadap ruang sempit dan kondisi gelap total. Kondisi ini sempat membuat aktivitas sehari-harinya terasa sangat terhambat dan penuh kecemasan.

Saat ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Ferry mengungkapkan bahwa rasa tidak nyaman tersebut sering kali muncul secara tiba-tiba, terutama saat ia berada di lingkungan yang tertutup rapat atau minim cahaya. Sebagai langkah antisipasi agar rasa panik tidak menyerang secara mendadak, aktor ini mengaku memiliki kebiasaan unik, yakni selalu membawa senter ke mana pun ia pergi. Senter tersebut menjadi "senjata" andalannya untuk memberikan rasa aman jika emosinya tiba-tiba tidak stabil.

Trauma Masa Kecil Picu Fobia Ferry Maryadi
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Namun, Ferry memberikan kabar baik bahwa kondisinya saat ini sudah jauh lebih terkendali. Setelah menjalani proses terapi selama kurang lebih dua tahun di bawah bimbingan seorang terapis bernama Ferdian, ia merasakan perubahan yang sangat signifikan. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah kini ia sudah bisa menggunakan helm jenis full face dan masker dengan nyaman.

Sebelumnya, selama puluhan tahun, Ferry selalu menghindari helm full face. Ia merasa seolah-olah ruang napasnya tercekik dan jarak pandangnya menjadi sangat terbatas saat wajahnya tertutup rapat. "Dulu kalau pakai full face rasanya seperti dibatasi ruang napasnya. Tapi setelah dua tahun ini, saya sudah merasa bebas dan nyaman," ujarnya dengan nada lega.

Menariknya, Ferry mengungkapkan bahwa akar dari fobia ini ternyata berasal dari trauma masa kecil yang cukup membekas. Ia menceritakan bahwa dulu ia adalah anak yang cukup nakal. Akibat kenakalannya tersebut, ia pernah dihukum dengan cara dikurung di dalam kamar mandi dalam kondisi lampu yang dimatikan total. Pengalaman traumatis itulah yang kemudian dikaji oleh terapisnya untuk menemukan solusi penyembuhan.

Proses pemulihan yang dijalani Ferry ternyata tidak memakan waktu yang sangat lama secara teknis. Ia mengaku hanya membutuhkan satu hingga dua sesi terapi untuk mendapatkan "kunci" atau kode mental guna mengendalikan rasa tidak nyaman tersebut. Terapisnya memberikan metode sugesti agar ia bisa memanggil memori tertentu yang menenangkan saat rasa takut mulai menyerang.

Meski fobia ini tidak sampai mengganggu profesionalitasnya di dunia hiburan, Ferry mengakui bahwa gangguan ini sempat menyulitkan mobilitasnya, terutama saat harus bepergian menggunakan pesawat terbang. Ruang toilet pesawat yang sempit sering kali menjadi tantangan tersendiri baginya. Namun kini, berkat keberanian untuk menghadapi trauma masa lalu, Ferry berhasil melampaui ketakutannya dan kembali menjalani hidup dengan lebih tenang.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar