Deteksinews.co.id – Seniman senior Jaja Mihardja, sosok yang tak terpisahkan dari dunia hiburan Tanah Air, secara mengejutkan mengungkapkan alasannya tidak pernah berniat mematenkan jargon legendarisnya, "Apaan Tuh?". Frasa ikonik yang telah melekat erat pada dirinya selama puluhan tahun ini, justru ia biarkan bebas digunakan oleh siapa saja, tanpa perlu khawatir akan masalah hak kekayaan intelektual. Keputusan ini mencerminkan filosofi unik sang maestro yang memilih berbagi daripada mengklaim eksklusivitas.
Pria yang akrab disapa Ayah Jaja ini, dengan santai menanggapi pertanyaan seputar pendaftaran hak paten atas celetukan khasnya. "Ngapain (dipatenkan)? Jangan… Biar orang pakai," ujar Jaja Mihardja saat ditemui di Studio FYP Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Pernyataan ini menegaskan pandangannya yang lapang dada, membiarkan karyanya menjadi bagian dari khazanah budaya publik, alih-alih menjadikannya aset pribadi yang dilindungi hukum.

Jargon "Apaan Tuh?" bukan sekadar rangkaian kata biasa. Ia telah menjadi identitas yang tak terpisahkan dari sosok Jaja Mihardja, melintasi berbagai generasi penonton televisi dan panggung hiburan. Keberadaannya seringkali menjadi penanda jeda iklan, penutup segmen, atau sekadar respons spontan yang mengundang tawa. Namun, di balik kesuksesan frasa tersebut, ada satu elemen krusial yang membuatnya tak tertandingi: gestur khas menutup sebelah mata saat melontarkannya.
"Kalau Apaan Tuh? pasti matanya sebelah," kata Jaja sambil memperagakan gaya ikoniknya yang sudah terpatri kuat dalam ingatan kolektif masyarakat. Gestur inilah yang menjadi pembeda utama, sebuah sentuhan personal yang membuat "Apaan Tuh?" versi Jaja Mihardja tetap otentik dan tak mudah ditiru, meskipun kata-katanya bisa diucapkan siapa saja. Ini adalah bukti bahwa orisinalitas tidak selalu terletak pada kepemilikan, melainkan pada cara penyajian dan karakter yang melekat.
Perjalanan jargon ini hingga mencapai status legendaris ternyata tidaklah mulus. Aktor sekaligus pedangdut senior ini mengenang masa-masa awal ketika ia pertama kali memperkenalkan gaya khasnya tersebut. Di tengah kesibukannya sebagai pembawa acara televisi, gaya yang kini diakui sebagai ikonik itu justru sempat menuai kritik pedas dari rekan-rekan sesama artis. Perdebatan sengit pun tak terhindarkan.
"Dulu kita sama artis sampai ribut, teman-teman artis. Waktu jadi pembawa acara itu kan. (Mereka bilang) ‘Kenapa lu pakai begitu-begitu sih? Biasa aja kenapa sih?’," kenang Jaja, menggambarkan resistensi yang ia hadapi. Banyak yang menganggap gayanya aneh, tidak lazim, dan bahkan menyarankan agar ia tampil lebih "normal". Namun, Jaja Mihardja bergeming. Ia memilih untuk tetap setia pada insting kreatifnya, tidak ambil pusing dengan cibiran yang datang.
Konsistensi dan keyakinan diri Jaja Mihardja akhirnya membuahkan hasil. Gaya yang dulu dianggap ganjil, perlahan tapi pasti, mulai mencuri perhatian penonton. Jargon "Apaan Tuh?" dengan gestur mata yang khas, menjelma menjadi ciri pembeda yang kuat. Ia tidak hanya menjadi penanda kehadiran Jaja Mihardja di layar kaca, tetapi juga menjadi bagian dari kosakata populer yang diucapkan banyak orang.
"Lain, (ternyata) hari ini berhasil amin amin," pungkas Jaja dengan nada syukur. Keberhasilan ini adalah buah dari ketekunan dan keberaniannya untuk tampil beda. Jargon "Apaan Tuh?" bukan hanya sekadar celetukan, melainkan simbol dari sebuah perjalanan panjang seorang seniman yang berani mempertahankan identitasnya, bahkan ketika dihadapkan pada kritik. Filosofi berbagi yang ia anut kini justru memperkuat posisinya sebagai legenda yang karyanya akan terus dikenang dan digunakan oleh banyak orang, lintas generasi.






