Deteksi News – Memberikan pujian kepada anak memang penting, namun seperti pepatah mengatakan, "sedikit garam bisa menambah rasa, terlalu banyak garam bisa merusak masakan." Begitu pula dengan pujian. Memberikan pujian berlebihan atau yang sering disebut overpraising ternyata bisa berdampak negatif pada perkembangan mental anak. Sebagai orang tua, kita perlu bijak dalam memberikan pujian agar anak tumbuh percaya diri dan mandiri, bukannya bergantung pada validasi eksternal.
Apa itu overpraising? Sederhananya, overpraising adalah kebiasaan memuji anak secara berlebihan, bahkan untuk hal-hal sepele yang sebenarnya tidak perlu mendapat pujian khusus. Misalnya, merapikan tempat tidur lalu langsung dibilang "Wah, kamu hebat sekali!". Meskipun terlihat sederhana, pujian seperti ini jika dilakukan terus menerus dapat membentuk persepsi yang keliru pada anak tentang usaha dan pencapaiannya.

Lalu, apa dampak negatifnya? Anak yang terlalu sering dipuji cenderung bergantung pada pujian orang lain. Mereka kehilangan motivasi internal untuk berusaha dan berprestasi karena merasa nilai dirinya ditentukan oleh seberapa banyak pujian yang diterimanya. Mereka juga akan takut gagal karena takut kehilangan pujian tersebut. Bayangkan, anak akan merasa cemas dan tertekan jika tidak mendapatkan pujian, bahkan untuk hal-hal kecil.
Lebih jauh lagi, overpraising dapat membuat anak menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Mereka sulit menerima kekurangan diri dan menetapkan standar yang terlalu tinggi, sehingga selalu merasa harus sempurna. Akibatnya, mereka akan kesulitan menerima kritik membangun karena menganggapnya sebagai serangan terhadap harga diri. Bayangkan betapa sulitnya anak tersebut menghadapi tantangan dan kegagalan di masa depan. Di masa dewasa, mereka mungkin akan meragukan kemampuan dan nilai dirinya sendiri jika tidak terus menerus mendapatkan pujian seperti saat kecil.
Lalu, bagaimana cara memberikan pujian yang tepat? Kuncinya adalah fokus pada proses, bukan hanya hasil. Puji usaha dan kerja keras anak, bukan hanya hasil akhirnya. Berikan pujian yang spesifik dan tulus, hindari pujian umum seperti "Kamu hebat!". Lebih baik puji dengan spesifik, misalnya "Gambarmu sangat bagus, warnanya kamu padukan dengan sangat indah!". Hindari memberi label seperti "anak paling pintar", karena ini bisa menimbulkan tekanan. Yang terpenting, dukung kemandirian anak dan biarkan mereka belajar dari kesalahan.
Intinya, sebagai orang tua, kita perlu bijak dalam memberikan pujian. Pujian yang tepat akan membangun kepercayaan diri anak, namun overpraising justru bisa berdampak sebaliknya. Mari kita fokus pada proses, berikan pujian yang spesifik dan tulus, serta dukung kemandirian anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan percaya diri. Semoga bermanfaat!






