deteksinews.co.id – Jagat maya dihebohkan dengan perseteruan antara aktor Sandy Tumiwa dan mantan istrinya Tessa Kaunang. Konflik ini mencuat setelah Sandy mengunggah sebuah foto hasil rekayasa kecerdasan buatan AI yang menampilkan Tessa berhijab lengkap dengan pujian darinya. Unggahan tersebut berbuntut somasi dari pihak Tessa Kaunang.
Sandy Tumiwa akhirnya angkat bicara terkait drama somasi yang diterimanya. Ia mengaku terkejut dengan reaksi tersebut sebab niat awalnya hanya ingin menunjukkan hal baik. Menurut Sandy unggahan foto itu murni dari niat positif dan bukan untuk memicu kesalahpahaman. Ia bahkan mengklaim sempat menghubungi Tessa secara personal sebelum mengunggahnya.

"Ini cuma masalah miskomunikasi saja. Karena kesibukan masing-masing saya juga sedang di luar kota saya hanya ingin mengingatkan. Maksud saya baik saya pikir dia akan terlihat cantik jika mengenakan kerudung. Saya bahkan sudah mengirim pesan WhatsApp padanya dan meminta izin" ungkap Sandy Tumiwa kepada awak media di Jakarta.
Sandy merasa heran mengapa respons yang diterimanya justru berupa somasi. Baginya persoalan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi langsung yang lebih sederhana. "Saya WA dulu ‘Kamu pakai jilbab cantik ya’ begitu. Tapi dia menolak dengan mengirim somasi. Padahal kan seharusnya cukup WA ‘Jangan dong’ kan lebih simpel. Selama ini komunikasi kami tidak pernah ada penolakan seperti itu jadi memang jauh sekali" tambahnya.
Lebih lanjut Sandy membantah keras anggapan bahwa unggahannya bertujuan untuk menyudutkan keyakinan Tessa atau membentuk opini seolah Tessa telah menjadi mualaf. Ia menegaskan pujiannya murni ditujukan pada penampilan sang mantan istri. "Saya sangat menghargai dia sebagai wanita yang berjasa besar bagi anak-anak kami" jelas Sandy.
Meskipun merasa tidak memiliki niat buruk Sandy memilih untuk menyampaikan permintaan maaf. Ia menyadari bahwa Tessa adalah sosok yang sangat berjasa sebagai ibu dari kedua buah hati mereka. "Wanita adalah ras terkuat di bumi. Kalaupun kita berseteru kita tidak akan pernah menang. Saya memiliki anak-anak. Pengorbanan saya tidak sebanding dengan pengorbanan Tessa. Dia mengandung selama sembilan bulan mempertaruhkan nyawa" ujarnya penuh penyesalan.
Sandy berharap persoalan ini tidak berlarut-larut. Ia sangat menginginkan hubungan komunikasi dengan Tessa dapat terjalin lebih baik demi menjaga kenyamanan dan ketenangan anak-anak mereka. "Sebaik-baiknya jasa saya kepada anak-anak tidak akan bisa dibandingkan dengan jasa ibunya. Tidak akan pernah. Oleh karena itu semua yang saya lakukan ini demi anak-anak karena keseimbangan itu penting" pungkasnya.






