Ruben Onsu Penuhi Panggilan Sarwendah, Tapi Ada ‘Syarat’ Menohok!

Celina

Celina

Ruben Onsu Penuhi Panggilan Sarwendah, Tapi Ada 'Syarat' Menohok!

Deteksi News – Kisah rumah tangga selebriti memang selalu menjadi sorotan, apalagi jika menyangkut polemik pascaperpisahan. Kali ini, drama antara Ruben Onsu dan Sarwendah kembali memanas, berpusat pada hak asuh anak dan nafkah. Namun, di tengah ketegangan, secercah harapan muncul dengan rencana pertemuan yang dijadwalkan pada 11 Juli mendatang. Sebuah ajakan yang datang dari pihak Sarwendah, dan Ruben Onsu, melalui kuasa hukumnya, menyatakan kesiapan untuk hadir—namun dengan pesan yang cukup menohok.

Minola Sebayang, juru bicara hukum Ruben Onsu, menegaskan niat kliennya untuk memenuhi undangan tersebut. "Sampai hari ini niat kita kan akan hadir," ujar Minola dalam wawancara virtual, Kamis (25/6). Ia menambahkan dengan nada bijak, "Tapi siapa yang tahu hari esok? Betul, kan? Apakah tanggal 11-nya nanti tiba-tiba ada halangan, apa tidak, kan kita nggak tahu, tapi marilah kita berdoa bersama supaya itu tidak ada halangan." Pernyataan ini menyiratkan harapan tulus agar pertemuan penting ini dapat berjalan lancar.

Ruben Onsu Penuhi Panggilan Sarwendah, Tapi Ada 'Syarat' Menohok!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Bagi pihak Ruben Onsu, solusi atas segala keributan ini sebenarnya sangatlah sederhana, bahkan terkesan fundamental dalam sebuah kesepakatan. Kuncinya adalah konsistensi dalam menjalankan poin-poin yang sudah tertuang jelas dalam kesepakatan pascacerai, yang mereka sebut sebagai Akta 39. Dokumen ini, menurut Minola, merupakan panduan utama yang seharusnya mengatur secara rinci segala konsekuensi perpisahan, mulai dari pembagian waktu bersama anak hingga urusan finansial.

"Karena kalau menurut kami, apalagi sih yang mau dibicarakan? Tinggal cukup direalisasikan Akta 39 yang sudah mengatur segala konsekuensi yang berkaitan dengan masalah perceraian, beres, kan?" tegas Minola dengan nada mempertanyakan. Ia seolah menyuarakan kelelahan pihak Ruben terhadap urgensi diskusi panjang jika kesepakatan tertulis yang sudah ada saja belum diimplementasikan secara maksimal oleh pihak mantan istri. Ada kesan bahwa mediasi ini tidak perlu berlarut-larut jika komitmen awal bisa ditepati.

Inti masalah yang ingin Ruben sampaikan adalah haknya sebagai ayah kandung untuk berkumpul bersama anak-anaknya, Thalia dan Thania, setidaknya dua hingga tiga hari dalam seminggu. Pihak Ruben merasa bahwa mediasi ini harus memiliki topik pembicaraan yang jelas dan terarah. Mereka tidak ingin pertemuan tersebut melebar ke persoalan lain yang dianggap sebagai pengalihan isu dari inti masalah utama: hak seorang ayah untuk menghabiskan waktu berkualitas dengan buah hatinya.

Lebih jauh, Minola mengungkapkan kegelisahan Ruben yang merasa tidak dilibatkan dalam diskusi penting terkait kebutuhan pendidikan hingga rencana liburan anak-anak. Ironisnya, meski tak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, Ruben tetap diminta untuk menanggung seluruh biaya secara penuh. "Ruben adalah orang yang bertanggung jawab. Hanya saja jangan artinya itu tidak ada diskusi, jangan S saja memutuskan. Harusnya diskusi, dong," pungkas Minola, menyiratkan keinginan Ruben untuk adanya komunikasi dua arah dan bukan keputusan sepihak.

Maka, pertemuan 11 Juli nanti diharapkan menjadi momen krusial untuk mengakhiri pola pengambilan keputusan sepihak dalam pengasuhan anak. "Kalau mengenai masalah hal-hal lain yang mau dibicarakan, sebenarnya kuasa hukumnya bisa saja menyampaikan dengan kita, misalnya mengenai masalah nafkah, misalnya besarannya, mengenai masalah lain-lain. Tapi kalau memang mau dibicarakan, ayo kita bicarakan. Tapi tulis topiknya apa," Minola menantang, menuntut kejelasan agenda demi tercapainya solusi konkret yang berpihak pada kebaikan semua, terutama anak-anak. Semoga pertemuan ini benar-benar membawa angin segar bagi kedua belah pihak.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar