Irfan Hakim Pilu Lihat Orangutan Terbakar

Celina

Celina

Irfan Hakim Pilu Lihat Orangutan Terbakar

deteksinews.co.id – Presenter kondang Irfan Hakim tak bisa menyembunyikan keprihatinannya terhadap tragedi kebakaran hutan di Kalimantan. Aktivis satwa ini mengaku menyaksikan langsung dampak mengerikan dari pembukaan lahan yang berujung pada kehancuran habitat dan kematian satwa liar.

Irfan menceritakan pengalaman pahitnya saat menjelajahi Kalimantan. Dari atas perahu, matanya sendiri menjadi saksi bagaimana jilatan api dari pembakaran lahan merembet tak terkendali, diterbangkan angin ke area lain. "Saat perjalanan ke Kalimantan, saya melihat nyata bagaimana bara api hasil pembakaran itu terbang terbawa angin dan membakar tanaman lain," ungkap Irfan, menggambarkan kengerian yang ia saksikan.

Irfan Hakim Pilu Lihat Orangutan Terbakar
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Ia kemudian mengungkap dugaan adanya lahan yang sengaja dipersiapkan untuk pembukaan. Menurutnya, praktik pembakaran lahan ini berpotensi besar menyebarkan api ke area yang lebih luas. "Ada lahan yang memang disiapkan untuk dibuka, misalnya lima hektar dibakar. Tapi percikan apinya itu terbawa angin, akhirnya menyebar," bebernya, menunjukkan betapa mudahnya api meluas di luar kendali.

Dampak dari bencana api ini bukan hanya dirasakan manusia. Satwa-satwa yang bergantung pada hutan sebagai rumah mereka turut menjadi korban tragis, termasuk orangutan yang kini terancam punah. "Banyak korbannya, salah satunya orangutan sebagai penghuni hutan itu sendiri. Saya melihat langsung induk orangutan meninggal di perkebunan, ada juga induk dan anaknya yang sudah sangat lemah, nyaris mati, lalu kami selamatkan," tutur Irfan dengan nada pilu.

Irfan menegaskan dirinya berupaya keras membantu penyelamatan satwa-satwa tersebut. Ia bahkan berencana kembali ke Kalimantan untuk memantau kondisi orangutan yang telah berhasil diselamatkan. "Alhamdulillah, nanti saya akan kembali ke Kalimantan. Semoga ini bisa selalu bermanfaat," harapnya.

Bukan berarti Irfan menolak pembangunan. Ia berpendapat bahwa pemanfaatan sumber daya alam sah-sah saja, asalkan dilakukan secara bijak dan tidak serakah. "Kita bukan anti pembangunan. Boleh mengambil batu bara, nikel, menanam sawit, tapi sewajarnya. Jangan serakah," tegasnya. "Jika serakah, alam akan menunjukkan kekuatannya. Jadi, secukupnya saja," tambahnya.

Ia juga menyoroti masalah pembagian hasil dari eksploitasi sumber daya alam yang tidak merata. Irfan merasa geram melihat keuntungan hanya dinikmati segelintir pihak, sementara masyarakat dan lingkungan menanggung beban. "Seharusnya dibagikan rata. Ini yang kaya hanya beberapa orang, itu yang bikin saya gemas. Melihat orangutan itu seolah meminta kasih sayang," ujarnya. Ia berharap video-video yang ia bagikan dapat menumbuhkan kesadaran untuk menjaga alam.

Terkait keinginan mengadopsi anak orangutan, Irfan menjelaskan bahwa adopsi satwa bukan berarti membawanya pulang. "Mengadopsi orangutan itu bisa dengan berdonasi, bukan mengambil dan merawat di rumah. Itu merampas, karena mereka perlu hidup layak di habitatnya," jelasnya. Masyarakat bisa membantu melalui donasi untuk biaya pakan satwa yang direhabilitasi. "Insyaallah Desember, atau lebih cepat, saya akan ke Kalimantan lagi untuk melepasliarkan induk dan anak orangutan," ungkapnya.

Dua individu orangutan yang dulu ia temui dalam kondisi sangat kurus dan lemah kini sedang digemukkan dan akan dikembalikan ke hutan. Irfan berharap bisa ikut serta dalam proses pelepasliaran tersebut.

Kepedulian Irfan terhadap lingkungan juga menjadi topik hangat di rumahnya. Isu satwa dan kelestarian alam sering dibicarakan bersama anak-anaknya saat makan bersama. "Anak-anak saya tahu, ‘Oh ini dilindungi, ini tidak boleh, ini mau punah ya, Yah?’" cerita Irfan. Edukasi lingkungan ini tidak hanya untuk keluarganya, melainkan juga kepada ratusan anak-anak yang diajarkan setiap hari tentang pentingnya menjaga alam.

Irfan berharap pembicaraan mengenai kerusakan alam ini dapat meningkatkan kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan makhluk lain. "Kita tidak hidup sendirian, ada pohon, ada hewan. Jangan salahkan alam jika alam juga bisa bertindak pada kita. Semoga ini jadi kesadaran untuk semua," pungkasnya.

Mengenai alasan pembakaran lahan masih terus dilakukan, Irfan menyebut faktor biaya. "Karena lebih murah. Pembukaan lahan dengan cara tebang itu dananya sangat besar, kalau dibakar lebih cepat," ujarnya. Ia pun meminta pihak-pihak yang melakukan pembukaan lahan untuk memikirkan dampak jangka panjang. "Tidak ada otak yang hanya memikirkan keuntungan sendiri, tanpa memikirkan jangka panjang. Semoga mereka disadarkan," kata Irfan.

Irfan mengajak masyarakat untuk lebih banyak menanam pohon dan menjaga lingkungan. "Menanam pohon itu pahala karena memberi oksigen. Kalau menebang atau membakar, itu dosa karena mengurangi oksigen. Di dunia mungkin bebas, tapi di akhirat, uh," pesannya.

Dalam perjalanannya ke Kalimantan, Irfan juga menemukan kondisi satwa lain yang memprihatinkan. Burung rangkong yang biasanya melimpah, kini hanya terlihat sepasang. Suara burung pun semakin jarang terdengar. Ia juga menemukan trenggiling yang terbakar. "Kalau reptil seperti ular, mereka bersembunyi saat kebakaran, akhirnya terbakar di tempat. Tapi orangutan cenderung lari, namun akhirnya mati juga karena kehilangan sumber makanan," tutup Irfan, mengingatkan pentingnya menjaga alam.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar