deteksinews.co.id – Aktris kawakan Dewi Irawan kini dikenal luas bukan hanya karena kiprahnya di layar lebar namun juga sebagai simbol ketabahan. Ia adalah sosok di balik perjuangan panjang orang-orang terkasihnya melawan penyakit mematikan. Bertahun-tahun lamanya, Dewi mengabdikan diri sepenuhnya sebagai penyokong utama, merawat dan mendampingi mulai dari adiknya Ria Irawan hingga mendiang suaminya Lukman Karim.
Perjalanan Dewi sebagai juru rawat keluarga dimulai jauh sebelum publik menyadari beban emosional yang ia pikul. Ia menjadi saksi sekaligus pengawal setia dalam pergumulan Ria Irawan melawan kanker getah bening. Belum usai duka kepergian Ria di awal tahun 2020, Dewi harus kembali menghadapi kenyataan pahit saat ibundanya Ade Irawan menyusul wafat hanya dalam hitungan hari. Menurut Dewi, peran seorang juru rawat bagi individu yang sakit menuntut ketahanan mental yang jauh melampaui apa yang dialami pasien itu sendiri. Baginya, tugas ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan menjaga bara semangat hidup agar tak padam di tengah deraan rasa sakit.

Ujian kesabaran Dewi tak berhenti di situ. Suaminya, Lukman Karim, didiagnosis mengidap kanker hati. Demi membersamai proses pengobatan sang suami, aktris berusia 63 tahun ini rela menetap di Italia selama berbulan-bulan. Ia mengurus segala kebutuhan medis dan memberikan dukungan moral tak terbatas hingga suaminya mengembuskan napas terakhir pada Juli 2021. Pengalaman mendalam tersebut mengajarkan Dewi bahwa setiap pasien membutuhkan pendekatan yang unik. Bintang film Rumah Singgah itu harus mampu membagi fokus dan emosinya agar tetap stabil saat menghadapi kondisi kesehatan anggota keluarga yang terus menurun secara bergantian.
"Seorang pengasuh harus jauh lebih tangguh daripada orang yang dirawatnya. Hatinya harus punya banyak ruang atau berbilik-bilik, supaya bisa memperlakukan setiap anggota keluarga dengan cara yang berbeda-beda sesuai kebutuhan mereka," ungkapnya. Dewi meyakini, pengalaman bertahun-tahun di ruang perawatan telah memberinya perspektif baru tentang makna ketulusan. Ia menyadari kehadiran seorang pendamping adalah kunci utama bagi pasien untuk tetap merasa berharga di masa-masa tersulit hidup mereka.
"Hati kita harus bisa menampung segala keluh kesah pasien. Sebagai pendamping, kita harus lebih sabar dan memiliki persiapan mental yang matang karena situasinya tidak pernah mudah," terangnya. Hingga kini, dedikasi Dewi Irawan terus dikenang sebagai wujud cinta tanpa batas. Meski harus melewati duka yang bertubi-tubi, ia tetap berdiri tegak dan membagikan pesan tentang betapa krusialnya peran keluarga dalam mendukung kesembuhan maupun memberikan ketenangan bagi mereka yang sedang berjuang. "Pengalaman mendampingi orang-orang tersayang sampai akhir hayat, adalah bentuk dedikasi terdalam yang bisa saya berikan sebagai anggota keluarga," pungkasnya.






