deteksinews.co.id – Sebuah insiden mendebarkan dialami Muhammad Bambang Arr Ray Bach putra bungsu Meisya Siregar yang nyaris terseret ombak besar di Bali. Kejadian ini meninggalkan kesan mendalam bagi sang ibu, yang kemudian memetik pelajaran penting. Istri Bebi Romeo ini meyakini bahwa peristiwa tersebut merupakan sebuah peringatan ilahi, khusus ditujukan untuk dirinya dan sang suami.
Meisya membagikan pengalaman pahit itu saat menjadi tamu dalam program Pagi-pagi Ambyar Trans TV. Ia merefleksikan diri, mengakui kemungkinan adanya kelalaian atau kurangnya kewaspadaan selama berlibur di Pulau Dewata. Menurutnya, saat menikmati liburan di Bali, ada amalan atau kebiasaan baik yang mungkin terlewatkan, atau bahkan perbuatan yang kurang tepat dilakukan. Oleh karena itu, ia menganggap musibah ini sebagai teguran murni dari Tuhan untuk dirinya dan Bebi.

Perempuan berusia 47 tahun itu menambahkan, kejadian tersebut menjadi pengingat keras agar tidak pernah lengah dalam menjaga anak-anak. Ia menyadari bahwa sebagai orang tua, masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam mendidik serta mengawasi. Meisya merasa, meskipun sudah berusaha maksimal untuk anak, insiden ini menunjukkan bahwa upaya mereka masih jauh dari sempurna. Ia bertekad menjadikan kesempatan ini sebagai momen untuk introspeksi dan memperbaiki diri.
Pasca-insiden, Meisya sempat sangat mencemaskan dampak psikologis pada putranya. Ia menduga Bambang akan mengalami ketakutan mendalam terhadap pantai, mengingat Bambang adalah pencinta sejati aktivitas air. Meisya sempat berpikir bahwa Bambang tidak akan pernah mau menginjakkan kaki di pantai lagi, dan ia sendiri pun enggan membawa anak-anaknya ke laut. Namun, di luar dugaan, keesokan harinya Bambang justru terlihat tenang, ceria, dan bahkan berinisiatif mengajak kembali bermain di pantai.
Respons cepat pulih dari sang putra semakin menguatkan keyakinan Meisya bahwa pelajaran dari peristiwa itu lebih menyasar dirinya dan Bebi Romeo sebagai orang tua. Ia menyimpulkan bahwa teguran tersebut bukan untuk anaknya yang tidak terdampak trauma, melainkan ditujukan kepada orang tuanya. Ini adalah pengingat keras untuk tidak sombong atau terlalu santai dalam mengawasi buah hati.






