Roy Marten Sentil Pasangan Muda: Nikah Tanpa Restu, Hati-hati!
Deteksi News – Aktor senior kawakan yang selalu relevan, Roy Marten, kembali menyita perhatian publik dengan pandangannya yang bijak namun lugas mengenai salah satu aspek terpenting dalam hidup: pernikahan. Dalam sebuah kesempatan, ayah dari Gading Marten ini secara terbuka membahas urgensi restu orang tua, sebuah topik yang kerap menjadi dilema bagi banyak pasangan muda. Ia menegaskan bahwa meskipun sah di mata hukum, pernikahan tanpa restu orang tua terasa ada yang kurang dalam konteks budaya Indonesia.

Berbicara di Studio Brownis TTV, seperti yang dikutip oleh deteksinews.co.id baru-baru ini, Roy menjelaskan bahwa secara hukum sipil, keabsahan sebuah pernikahan tidak akan gugur hanya karena ketidakhadiran atau ketidaksetujuan orang tua, asalkan kedua mempelai telah memenuhi batas usia yang ditetapkan. "Selama dia sudah masuk umur, berarti kalau menurut saya, kalau misal orang tua nggak datang, kalau secara hukum sah ya sah," ujar Roy Marten dengan tenang, menggarisbawahi perbedaan antara legalitas dan kelengkapan batin.
Namun, bagi pria yang dikenal dengan karismanya ini, ada dimensi lain yang tak kalah penting. "Cuma ya kurang afdal. Sebaiknya pernikahan ya disetujui oleh kedua orang tua," lanjutnya, menyoroti sisi etika dan budaya yang mengakar kuat di masyarakat kita. Menurutnya, kultur orang Asia sangat menjunjung tinggi peran serta restu dari orang tua, sebuah nilai yang mungkin berbeda dengan pandangan di Barat. "Karena kita orang Asia. Kalau orang Barat mungkin berbeda. Jadi sekali lagi kalau menurut hukum sah apa nggak? Saya kira sah. Cuma sekali lagi, kurang afdal," tegas Roy, memberikan penekanan pada perbedaan kultural yang mendalam yang seringkali terabaikan.
Secara pribadi, Roy Marten tidak menyembunyikan harapannya agar setiap pernikahan selalu diiringi restu dari orang tua. Namun, ia juga menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap realita yang dihadapi generasi muda saat ini, di mana gejolak asmara seringkali membuat mereka "buta" terhadap nasihat. "Kalau saya pribadi, saya sangat mengharapkan restu orang tua. Tapi kalau anak… orang muda kalau sudah jatuh cinta kan tidak peduli sama orang tua, katanya. Jadi, nggak bisa sepihak," pungkasnya, menggambarkan dilema universal antara cinta yang menggebu dan kewajiban moral terhadap keluarga.
Pesan Roy Marten ini bukan sekadar nasihat biasa, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang pentingnya menyeimbangkan antara keabsahan hukum, norma sosial, dan ikatan emosional dalam sebuah pernikahan. Sebuah pengingat bahwa di balik janji suci dua insan, ada restu dan doa dari orang tua yang bisa menjadi fondasi kokoh bagi kebahagiaan yang langgeng dan penuh berkah.






