Ibu Bekerja, Rentan Burnout? Ini Solusinya!

Nuraini

Nuraini

Ibu Bekerja, Rentan Burnout? Ini Solusinya!

Deteksi News – Menjadi ibu bekerja adalah peran ganda yang penuh tantangan. Banyak ibu yang merasakan beban berat, hingga memicu kelelahan fisik, mental, dan emosional yang berkepanjangan, yang dikenal sebagai burnout. Data menunjukkan bahwa 80% ibu bekerja rentan mengalami kondisi ini. Sebagai orang tua, saya memahami betul betapa pentingnya mengenali penyebab dan solusi untuk mengatasi masalah ini, agar kita bisa tetap sehat dan bahagia dalam menjalani peran sebagai ibu dan pekerja.

Burnout pada ibu bekerja bukanlah hal yang sepele. Ini adalah akumulasi dari berbagai tekanan. Beban kerja yang berlebihan, baik di kantor maupun di rumah, tanpa istirahat yang cukup, menjadi penyebab utama. Bayangkan, seharian bekerja keras, pulang lalu masih harus mengurus rumah tangga dan anak-anak. Tentu sangat melelahkan, bukan?

Ibu Bekerja, Rentan Burnout? Ini Solusinya!
Gambar Istimewa : cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Selain itu, tekanan ekspektasi sosial juga berperan besar. Banyak ibu merasa harus sempurna dalam segala hal: karier cemerlang, rumah tangga rapi, dan anak-anak yang berprestasi. Ini menciptakan beban psikologis yang luar biasa. Ingatlah, tidak ada yang sempurna. Kita semua berhak untuk membuat kesalahan.

Kurangnya waktu untuk diri sendiri ("me time") juga menjadi pemicu. Ibu yang terlalu sibuk seringkali kesulitan meluangkan waktu untuk merawat dirinya sendiri, sehingga kelelahan emosional terus menumpuk. Tanpa jeda, energi fisik dan mental akan terkuras habis. Dukungan yang minim dari pasangan atau keluarga juga memperparah kondisi.

Lalu, bagaimana kita mengenali gejala burnout? Gejala fisiknya meliputi kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, perubahan nafsu makan dan pola tidur. Secara mental, ibu yang mengalami burnout mungkin merasa tidak berdaya, kehilangan motivasi, sulit berpikir jernih, dan mudah lupa. Secara emosional, mudah marah, sedih, cenderung mengisolasi diri, dan overthinking juga menjadi ciri khasnya.

Jadi, apa solusinya? Pertama, manajemen waktu dan prioritas yang bijak sangat penting. Buat daftar pekerjaan, alokasikan waktu secara efektif, dan hindari multitasking. Kedua, luangkan waktu untuk "me time", meskipun hanya sebentar. Aktivitas relaksasi seperti yoga, membaca buku, atau sekadar menikmati secangkir kopi bisa membantu. Ketiga, jangan ragu meminta bantuan pasangan atau keluarga. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah cerdas. Keempat, kelola ekspektasi dan lepaskan perfeksionisme. Ingatlah, anak-anak kita akan tumbuh lebih baik jika dibesarkan oleh ibu yang bahagia dan sehat. Terakhir, jika gejala burnout berlanjut, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater. Kesehatan mental kita sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ingat, kita berhak untuk bahagia dan sehat.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar