Deteksinews.co.id – Presenter dan model ternama, Patricia Gouw, secara blak-blakan mengungkapkan pandangannya mengenai jumlah anak yang ia inginkan dalam rumah tangganya. Berbeda dengan keinginan sang suami, Daniel Bertoli, Patricia merasa cukup dengan kehadiran satu buah hati. Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh pengalaman pribadi yang mendalam selama masa kehamilan, persalinan, hingga menyusui, yang menurutnya menguras banyak energi dan fokus.
Dalam sebuah kesempatan wawancara di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, pada Selasa (29/9/2026), Patricia Gouw dengan jujur menyatakan, "Aku punten satu aja dulu, ya kan karena aku tuh penginnya tuh punya kualitas hidup yang baik gitu, ya kan." Pernyataan ini menyoroti prioritasnya terhadap kualitas hidup keluarga. Ia ingin memastikan setiap momen tumbuh kembang sang buah hati dapat dinikmati sepenuhnya tanpa harus merasa terbebani oleh tuntutan lain, baik dari segi waktu, tenaga, maupun finansial.

Menariknya, pandangan Patricia saat ini sangat berbeda dengan harapannya sebelum merasakan langsung menjadi seorang ibu. Ia mengaku, di awal pernikahannya atau sebelum memiliki anak, sempat berangan-angan untuk memiliki dua orang anak. Namun, realita yang ia hadapi setelah melalui fase-fase krusial dalam perjalanan menjadi orang tua mengubah perspektifnya secara drastis. "Dulu aku maunya dua. Pas udah ngelewatin hamil, melahirkan, menyusui, punten satu aja cukup. Pinggang pegal saya. Heeh, ya kan," ujarnya, menggambarkan betapa beratnya perjuangan fisik yang ia alami. Rasa sakit, kelelahan, dan perubahan fisik yang menyertai setiap tahapan tersebut menjadi faktor utama yang membuatnya memantapkan hati untuk tidak terburu-buru menambah momongan.
Kontras dengan Patricia, sang suami, Daniel Bertoli, justru masih memiliki keinginan untuk memiliki dua anak. Perbedaan pandangan ini kemudian memicu candaan dari Patricia yang cukup menggelitik namun sarat makna. Ia melontarkan sindiran halus kepada suaminya mengenai perbedaan pengalaman antara pria dan wanita dalam proses kehamilan. "Suami sekarang mah pengin dua. Gue bilang gini, ‘Ya iyalah lo pengin dua, orang lo kagak ngerasain sakitnya. Cuma bayar, gue juga bisa bayar. Gimana kalau tukeran aja? Lo aja yang hamil, gue yang bayar, gue aja yang kerja, gak apa-apa. Mendingan gua kerja’," tutur Patricia dengan nada bercanda namun tegas. Ungkapan ini secara implisit menyoroti beban fisik dan emosional yang mayoritas ditanggung oleh wanita selama masa kehamilan, sementara peran suami cenderung lebih pada dukungan finansial dan emosional.
Lebih lanjut, Patricia Gouw menjelaskan dampak signifikan kehamilan terhadap kondisi fisik dan mentalnya. Perubahan hormon, bentuk tubuh, serta tingkat energi yang menurun drastis menjadi tantangan tersendiri. Ia bahkan merasakan bagaimana kondisi ini memengaruhi kariernya yang sedang berada di puncak. "Ini badan berubah, ininya juga berubah, semuanya berubah, ya kan. Energi berubah," katanya. "Di saat gua lagi peak-peak-nya pekerjaan jadi turun karena gue hamil, gue sakit, lalala, lilili, lilili, ngurus anak," tambahnya, menggambarkan bagaimana prioritasnya bergeser dari karier ke keluarga. Pengalaman ini membuatnya menyadari betapa besar pengorbanan yang harus dilakukan seorang wanita, yang seringkali tidak disadari sepenuhnya oleh pasangan.
Saking beratnya pengalaman tersebut, Patricia bahkan berkelakar jika Tuhan memberinya pilihan untuk menjadi istri atau suami, ia akan memilih menjadi suami. "Kalau misalnya Tuhan tanya, ‘Pat, kamu pilih jadi istri apa jadi suami?’ Pilih jadi suami. Ya dong, Nek. Gak ngerasain sakit, cuma tahu semua selesai lo bayar doang. Hello? Ini badan berubah, ininya juga berubah, semuanya berubah, ya kan. Energi berubah," ucapnya, menekankan kembali perbedaan beban yang dirasakan dan tantangan yang dihadapi seorang ibu.
Meskipun saat ini ia merasa cukup dengan satu anak, Patricia Gouw mengaku tidak memiliki kekhawatiran sama sekali mengenai kemungkinan tidak memiliki anak lagi di kemudian hari. Ia merasa sangat bersyukur dan bahagia karena telah dipercaya oleh Tuhan untuk memiliki seorang anak. Baginya, satu anak yang sehat dan terawat dengan baik sudah merupakan anugerah yang luar biasa. "Gak ada, cukup. Puji Tuhan udah dipercayain satu sama Tuhan. Benar-benar dijaga aja satu, ya gak?" tuturnya penuh rasa syukur, menunjukkan kepasrahan dan penerimaan atas karunia yang telah diberikan.
Selain itu, menjaga keharmonisan hubungan sebagai suami istri juga menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Patricia. Ia tidak ingin keputusan untuk menambah anak justru berujung pada tekanan dan beban yang lebih berat dalam kehidupan rumah tangga. Baginya, pondasi hubungan yang kuat antara dirinya dan Daniel adalah kunci kebahagiaan. "Dan bukannya yang satu, kita sebagai suami istri juga hubungannya harus baik. Ya kan? Daripada nambah-nambah anak lagi pusing, Eke," jelasnya, menunjukkan prioritasnya pada stabilitas emosional dan kebahagiaan keluarga secara menyeluruh, di atas keinginan untuk memiliki banyak anak.
Mengenai kemungkinan hadirnya anak kedua, Patricia Gouw sepenuhnya menyerahkan kepada kehendak Tuhan. Jika suatu saat nanti ia kembali diberi kepercayaan untuk memiliki momongan, ia akan menerimanya dengan lapang dada. Namun, jika tidak, ia akan fokus merawat dan membesarkan anak semata wayangnya dengan sebaik mungkin. "Entar dulu aja, kalau Tuhan udah kasih ya mau gimana kalau Tuhan kasih. Tapi kalau enggak, ya kita jaga aja dulu, ya enggak sih? Be smart, darling," pungkas Patricia, menutup perbincangan dengan bijak dan realistis. Sikapnya ini menunjukkan kematangan dalam menyikapi rencana keluarga, memadukan antara keyakinan spiritual dan pertimbangan praktis demi kebaikan seluruh anggota keluarga.






