Deteksinews.co.id – Aktor muda Haykal Kamil mengungkapkan keprihatinan mendalamnya terhadap kondisi lingkungan di Indonesia, khususnya terkait bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Melalui pengalamannya saat melakukan perjalanan dinas ke wilayah Sumatera Barat pada awal Oktober lalu, ia menyaksikan sendiri betapa buruknya kualitas udara yang kini mengancam kesehatan masyarakat.
Haykal mengaku sempat mengira bahwa dampak karhutla hanya akan terasa hebat di wilayah-wilayah yang kerap menjadi sorotan media, seperti Riau, Palembang, atau Palangka Raya. Namun, realita yang ia temui di lapangan justru jauh dari ekspektasi tersebut. Saat pesawat yang ia tumpangi hendak mendarat di Sumatera Barat, ia mendapati jarak pandang yang sangat terbatas akibat tertutup kabut asap yang pekat.

"Kemarin saat saya ke Sumatera Barat, bahkan saat mau turun pesawat saja, kondisi udaranya terasa lebih parah. Padahal biasanya dari udara kita bisa melihat kawasan Bukit Barisan dengan jelas, tapi kali ini sama sekali tidak kelihatan. Visibilitasnya sangat rendah," ujar Haykal saat ditemui di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Bagi Haykal, fenomena ini bukan sekadar masalah jarak pandang, melainkan masalah hak asasi manusia. Ia menekankan bahwa setiap orang seharusnya memiliki hak untuk menghirup udara bersih tanpa harus terancam oleh polusi yang merusak kesehatan. Ia merasa sangat sedih melihat kondisi ini, mengingat polusi udara merupakan dampak nyata dari aktivitas manusia yang seharusnya bisa dicegah sejak dini.
Lebih lanjut, Haykal menceritakan pengalamannya saat berada di Payakumbuh. Meski tidak ada titik api langsung di wilayah tersebut, ia tetap mencium bau asap yang menyengat. Ia mengibaratkan situasi tersebut seperti mencium asap pembakaran sampah di sekitar rumah, namun tidak tahu harus mengadu ke siapa karena sumber asapnya tidak terlihat secara langsung. Kondisi ini membuatnya membayangkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh warga yang tinggal tepat di titik kebakaran.
Selain isu lingkungan, Haykal juga menyoroti fenomena sosial di media sosial. Ia menanggapi keresahan para aktivis dan figur publik yang merasa akun mereka terkena shadowban—pembatasan jangkauan konten—setelah vokal menyuarakan isu lingkungan. Haykal mengaku dirinya sendiri beberapa kali mengunggah konten terkait karhutla untuk meningkatkan kesadaran publik.
Ia merasa ada ketimpangan dalam kebijakan moderasi konten di media sosial. Menurutnya, sangat ironis jika konten yang membahas isu lingkungan justru dibatasi, sementara konten ilegal seperti judi online dan prostitusi masih bebas berkeliaran.
"Aku sangat menyayangkan hal ini. Harusnya yang kena ban itu adalah konten judi online atau prostitusi, bukan isu lingkungan seperti ini. Jika konten lingkungan saja dibatasi, seolah tidak ada kemauan nyata untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas," pungkasnya dengan nada kecewa.






