Deteksi News – Sosok selebriti Dilan Janiyar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas gejolak ekonomi yang kini menjadi sorotan publik. Mulai dari penguatan nilai tukar dolar AS yang mengkhawatirkan hingga kabar kenaikan harga BBM Pertamax yang kini menyentuh angka Rp16.250 per liter, semua memicu keprihatinan mendalam baginya. "Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Pusing banget. Naiknya tuh langsung, langsung berapa ribu. Kenapa nggak naiknya pelan-pelan ya?" ungkap Dilan dengan nada khawatir yang sangat manusiawi saat ditemui di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.
Dilan mengaku baru semalam mengetahui kabar mengejutkan ini. Informasi tersebut ia dapatkan langsung dari sopir pribadinya saat hendak bepergian. "Aku juga cukup syok karena itu beritanya baru tadi malam. Begitu masuk mobil langsung driver aku bilang, ‘Bu, Pertamax naik jadi sekian’. Ya ampun cukup meresahkan, cukup mengkhawatirkan," lanjutnya, menggambarkan betapa mendadak informasi itu menghantamnya dan betapa cepat dampaknya terasa di kehidupan sehari-hari.

Bagi Dilan, kenaikan harga BBM bukan sekadar soal biaya transportasi semata. Ia melihatnya sebagai pemicu efek domino yang berpotensi melambungkan harga kebutuhan pokok lainnya, menciptakan tekanan ekonomi yang lebih luas. Harapan besar terucap dari bibirnya agar kondisi ekonomi Indonesia segera membaik dan nilai tukar dolar dapat kembali terkendali. "Semoga Indonesia segera pulih lagi ekonominya, semoga bisa ditekan lagi. Eh dolarnya jangan sampai nembus Rp18.000 gitu. Kalau bisa, ya Allah. Gue panik banget," ujarnya, menunjukkan kekhawatiran yang sangat mendalam akan stabilitas ekonomi nasional.
Dampak kenaikan BBM, menurut Dilan, memang tidak selalu terasa instan. Namun, secara perlahan, kondisi ini akan meresap dan memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat, dari hulu ke hilir. Sebagai individu yang juga merasakan dampaknya, ia mengatakan hanya bisa terus bekerja keras, bersyukur, dan tak henti berdoa agar keadaan segera membaik. Dilan menegaskan bahwa fluktuasi dolar pasti memberikan dampak, baik langsung maupun tidak langsung, kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali.
"Jadi pasti ya makanya aku, aduh ya ampun semoga deh, semoga segera balik Indonesia pulih. Soalnya gaji juga nggak naik, UMR nggak naik, ya kan," sambungnya, menyoroti realitas pahit bagi banyak pekerja, terutama generasi muda yang memiliki pendapatan tetap. Ia bahkan berkelakar tentang gaya hidup Gen Z yang kini "bergantung hanya pada Allah," dengan pilihan antara "minum es kopi susu, es kopi susu, terima nggak makan daripada nggak ngerokok sama nggak ngopi, ya kan?" sebuah gambaran satir yang menyentil tentang prioritas dan perjuangan di tengah kesulitan ekonomi.
Menariknya, Dilan juga menyoroti fenomena pusat perbelanjaan yang tetap ramai di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Baginya, ini adalah cerminan kebutuhan masyarakat untuk mencari hiburan yang masih terjangkau sebagai pelarian dari stres. "Jadi kenapa ekonomi kita tuh lagi kayak gini parah-parahnya, tapi mal tuh tetap jaya? Karena kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa dibeli dengan harga murah itu mereka tuh pelariannya ke situ," ungkap Dilan dengan observasi tajam. Ia menambahkan, "Jadi rakyat tuh pada stres, eh mereka konsumtif secara harga ecerlah, harga-harga murah gitu yang bisa dibeli untuk kayak beli makanan kekinian yang Rp60 ribu satunya, beli matcha yang segelas Rp60 ribu, Rp70 ribu, ya kan." Sebuah analisis tentang perilaku konsumsi sebagai bentuk pelarian emosional.
Meski demikian, Dilan juga mengingatkan bahwa kebiasaan konsumtif semacam itu belum tentu memberikan manfaat yang cukup bagi kesehatan, baik fisik maupun finansial masyarakat dalam jangka panjang. Ia kembali menutup pernyataannya dengan harapan tulus agar perekonomian nasional bisa segera bangkit, memberikan kesejahteraan yang lebih baik, dan stabilitas yang dirindukan oleh seluruh rakyat Indonesia.






