Hati Bara Valentino Remuk Redam: Rindu Ayah Tiada!
Deteksi News – Di balik gemerlap panggung hiburan dan sorotan kamera yang tak pernah padam, ada kisah pilu yang menyelimuti hati seorang Bara Valentino. Aktor sekaligus presenter yang dikenal dengan senyum cerianya ini, ternyata menutup tahun 2025 dengan beban kerinduan yang mendalam. Sebuah duka yang tak terperi, mengikis keceriaan di penghujung tahun, saat ia harus menjalani babak baru tanpa sosok paling penting dalam hidupnya.

Bara, yang kerap wara-wiri di layar kaca sebagai pemain series dan host "Bikin Laper," tak kuasa menahan kesedihannya. Ini adalah tahun pertama ia melewati hari-hari tanpa kehadiran sang ayah tercinta. "Tentunya sudah pasti kalau sosok utama di hidup aku gak ada, sang ayah, pasti ya sedihlah," ungkap Bara Valentino dengan mata berkaca-kaca, saat ditemui tim Deteksi News di Studio Rumpi: No Secret TTV Kapten P Tendean, Selasa (30/12/2025).
Momen yang paling ia rindukan adalah ritual sederhana namun penuh makna: panggilan video dengan ayahnya usai syuting. Kebiasaan manis yang dulu menjadi penutup hari, kini hanya menyisakan ruang hampa dan sesak di dada. "Biasanya aku hampir tiap malam, hampir tiap malam aku pulang syuting itu aku video call-an sama ayah. Ya sekarang tiap pulang syuting itu sedih karena gak bisa video call lagi sama ayah, almarhum, gak bisa dengar suaranya lagi," tuturnya lirih, suaranya tercekat menahan tangis.
Ayah Bara Valentino, Barakatullah Valentino Peter, telah berpulang pada awal Maret 2025 di Afghanistan. Kenangan terakhir Bara bertemu ayahnya adalah setahun sebelum kepergian itu, sebuah pertemuan yang kini menjadi harta tak ternilai. Kehilangan ini bukan hanya tentang absennya fisik, melainkan juga hilangnya kehangatan percakapan, tawa, dan nasihat yang dulu selalu mengisi hari-harinya.
Dalam sorotan lampu panggung, Bara mungkin tampak tegar. Namun, di balik layar, ia adalah seorang anak yang merindukan ayahnya, seperti banyak dari kita. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap persona publik, ada hati yang berjuang, merasakan duka, dan merindukan mereka yang telah pergi. Sebuah pengingat akan rapuhnya hidup dan abadinya cinta seorang anak kepada orang tuanya.






