Mandra Blak-blakan: Tanjidor Salah! Si Doel Biang Kerok?
Deteksi News – Dunia hiburan dan budaya Betawi kembali dihebohkan oleh pernyataan blak-blakan dari maestro komedi, Mandra. Sosok yang akrab dengan logat Betawi kental ini baru saja membongkar sebuah fakta mengejutkan yang selama ini mungkin luput dari perhatian banyak orang: penyebutan "tanjidor" ternyata keliru! Dan siapa sangka, sinetron legendaris "Si Doel Anak Sekolahan" disebut-sebut sebagai ‘biang kerok’ di balik kesalahpahaman massal ini.

Selama puluhan tahun, istilah "tanjidor" telah melekat erat di benak masyarakat sebagai identitas musik tradisional Betawi. Namun, Mandra, dengan gayanya yang khas, menegaskan bahwa popularitas istilah ini justru bermula dari layar kaca, tepatnya dari sinetron ikonik yang turut ia bintangi di era 90-an. "Hal yang kayak begitu yang perlu dibenahi. Satu contoh macam seperti apa yang tadi situ bilang, dengan adanya sebutan tanjidor. Ini yang perlu diluruskan. Tanjidor itu dengan sebutan yang salah," ungkap Mandra saat ditemui di Studio Trans 7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, seperti dilansir deteksinews.co.id.
Pria 59 tahun ini menjelaskan bahwa akar masalahnya terletak pada pemahaman yang kurang mendalam. Ia menyebut, kata yang benar sebenarnya adalah "tanji". Lantas, apa arti "dor" yang selama ini ikut-ikutan nangkring di belakangnya? "Dor itu bodoran (lawakan). Kalau mungkin era sekarang tahunya… komika karena ada lawakannya," jelas Mandra. Jadi, "tanjidor" seolah berarti "tanji yang ada lawakannya," padahal itu bukan nama keseniannya secara utuh. Sebuah ironi, bagaimana sebuah elemen komedi justru diserap menjadi bagian dari nama kesenian itu sendiri.
Mandra tak hanya menyoroti "tanjidor." Ia juga prihatin melihat banyak seniman Betawi sendiri yang kerap salah kaprah dalam memahami istilah-istilah budaya mereka. "Macam kayak bahasa kata panjak, anak wayang, kan kadang maaf ya, si senimannya sendiri banyak yang salah. Ya kadang-kadang itu ya senimannya sendiri aja nggak paham. Banyak," ujarnya, menyiratkan adanya gap pengetahuan yang cukup serius di kalangan pelaku seni yang seharusnya menjadi garda terdepan pelestarian.
Sebagai salah satu penjaga budaya Betawi, Mandra merasa terpanggil untuk meluruskan sejarah. Ia bahkan kerap didatangi mahasiswa hingga peneliti yang ingin menggali informasi langsung darinya. "Lo mesti tahu asal usul, kok kenapa bisa disebut tanjidor? Lo kenalnya tahun berapa? Tanjidor tuh tahun berapa? 90-an mungkin, dengan kata bahasa tanjidor gara-gara Si Doel yang bilangnya tanjidor," bebernya, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media dalam membentuk persepsi publik, bahkan hingga puluhan tahun kemudian.
Mandra mengingatkan bahwa kesenian Betawi memiliki akar sejarah yang panjang dan tak bisa dipahami sepotong-sepotong. "Kalau ada tanjidor berarti ada lagi sebenarnya. Ada jinong, ada jipeng. Itu kan urutannya si tanjidor. Kalau lo dulu kenal cuma tanjidor doang, ya berarti ilmu lo baru sejengkal. Apalagi lo orang Betawi ngakunya, ‘Saya punya tanjidor’, ya udah… ya baru bangun tidur kali," pungkasnya sambil berkelakar, menyentil dengan gaya khasnya namun penuh makna, betapa pentingnya menggali lebih dalam warisan leluhur.
Pernyataan Mandra ini tentu menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk lebih cermat dalam memahami dan melestarikan warisan budaya. Jangan sampai popularitas sesaat mengaburkan keaslian sejarah, dan peran para budayawan sejati seperti Mandra menjadi sangat krusial dalam menjaga kemurnian identitas bangsa.






