Deteksi News – Dunia hiburan memang tak pernah sepi dari cerita unik para selebriti, terutama ketika kehidupan pribadi mereka bersinggungan dengan hiruk-pikuk media sosial. Kali ini, sorotan tertuju pada pesinetron Shandy Sjariff, yang dikenal aktif menciptakan konten-konten kocak dan menghibur di platform digitalnya. Namun, di balik tawa yang ia suguhkan kepada ribuan pengikutnya, tersimpan sebuah "drama" kecil yang cukup menggelitik di rumah tangganya. Putri sulungnya, Madiva Putri atau yang akrab disapa Diva, justru merasa risih dan malu dengan tingkah sang ayah di dunia maya. Sebuah ironi manis yang menggambarkan dinamika keluarga selebriti di era digital.
Shandy, saat ditemui di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, baru-baru ini, tak sungkan berbagi kisah. Ia mengakui bahwa kebiasaan membuat kontennya ini tidak selalu mendapat sambutan hangat dari semua anggota keluarga. "Kalau konten sih lebih banyak ke istri sama ke anak yang kecil. Kalau Diva justru agak-agak risih dia dengan konten-konten aku yang ada di sosial media. Ya namanya ABG mungkin malu atau apa gitu ya," ujarnya sambil terkekeh. Pengakuan ini membuka tabir bahwa tak semua anggota keluarga selalu sejalan dengan persona publik seorang selebriti, terutama di mata remaja yang sedang mencari jati diri.

Aktor tampan ini mengaku beberapa kali mencoba mengajak keluarganya untuk berpartisipasi dalam konten-kontennya. Sang istri dan anak bungsunya disebut cukup antusias dan mudah diajak berkolaborasi. Namun, berbeda jauh dengan Diva yang masih enggan tampil di hadapan kamera untuk konten sang ayah. "Aku ajak, jadi ‘Udah kamu ikut bareng konten yuk, bikin konten sama Papa’, gitu. Terus pada tanya aku, ‘Ngapain?’ Ya udah diam aja pokoknya gitu. Eh ya mereka sih mau. Kalau istri sama anak aku yang kecil mau. Kalau Diva eh belum. Belum mau dia," jelas Shandy, menggambarkan perjuangannya membujuk sang putri.
Saat ditanya langsung mengenai alasannya, Diva dengan jujur mengungkapkan perasaannya. "Ya aku sebenarnya kayak malu sih kalau semisal aku ada di konten kayak gitu," ucapnya polos. Lebih lanjut, remaja ini tak segan menyampaikan keberatannya kepada sang ayah terkait video-video yang diunggah ke media sosial. "Aku bilang kayak, ‘Ih aku malu kalau semisal Papa buat video kayak gitu terus Papa posting di social media,’ gitu," tambahnya, menunjukkan betapa besar rasa malunya sebagai seorang anak yang ingin ayahnya tampil "normal" di mata teman-temannya.
Meski sudah mendapat "protes" dari putrinya, Shandy tetap melanjutkan hobinya berkreasi di media sosial. Ia menjelaskan bahwa konten-konten tersebut juga bagian dari strategi untuk meningkatkan eksposur dan tetap relevan di mata publik. "Iya, tapi kan aku jelasin bahwa itu emang konten, ya untuk kita butuh exposure juga di sosial media. Dia sih mengerti cuman masih tetap aja, ‘Ya kalau bisa jangan lah konten-konten kayak gitu’," jelas Shandy. Diva bahkan punya pesan khusus untuk sang ayah: "Papa tuh kalau bikin tuh yang benar yang normal gitu." Shandy pun menanggapi dengan tawa, "Ya kali normal kan nggak menarik. Yang normal ya biasa aja, harus yang abnormal gitu loh baru menarik."
Kisah Shandy Sjariff dan Diva ini menjadi cerminan manis dari perbedaan generasi dan pandangan terhadap media sosial. Di satu sisi, ada seorang ayah yang ingin tetap relevan, menghibur, dan memanfaatkan platform digital untuk eksposur; di sisi lain, ada seorang putri remaja yang mendambakan privasi dan "normalitas" di tengah sorotan publik. Sebuah dinamika keluarga yang hangat, penuh tawa, dan sedikit rasa malu yang justru menambah warna kehidupan selebriti di tengah modernitas.






