Deteksi News
Featured Madura Tapal Kuda

Harga BBM Meroket, Warga Sapudi Minta SPBU/APMS Stop Jual ke Tengkulak

Habibullah/Hilman – Deteksi News

Sumenep, (deteksinews.co.id) – Melambungnya Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di Kepulauan Sapudi, Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep, diduga disebabkan karena SPBU/APMS banyak menjual ke tengkulak.

Oleh sebab itu Warga Sapudi meminta kepada pemerintah kecamatan dan Forpimka (Forum Pimpinan Kecamatan) untuk mencarikan solusi agar harga BBM kembali stabil.

Sebelumnya warga Sapudi sudah mengadakan koordinasi dengan Forpimka dan pihak SPBU untuk mencari solusi bersama supaya masyarakat sapudi tidak tercekik dengan harga BBM yang lebih mahal dari harga eceran tertinggi (HET).

Berdasarkan informasi dihimpun harga BBM jenis premium di Kepulauan Sapudi melambung hingga eceran Rp. 12.000 Hinggan Rp. 13.000 per liter. Hal itu membuat warga Sapudi merasa dipermainkan oleh pihak APMS dan tengkulak.

Hingga saat ini, karena pertemuan sebelumnya, yakni pertemuan kesatu dan kedua tidak membutuhkan hasil. Maka pemuda beserta warga Sapudi kembali menggelar Audensi dan koordinasi dengan Forpimka Kecamatan Gayam. Senin (20/09/2021) kemarin.

Pantauan media Deteksinews.co.id pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Sekcam Gayam, Drs. Hedi Risman, Kasi Tapem, Ikbal, Kapolsek Gayam, Rusydi , Danramil Gayam, Ardi Sumarjo, serta tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda.

Hadir pula pada kesempatan tersebut, Ketua MWC NU Gayam, Ust Mas’ud, MH, Muhammadiyah, Hasa. Dari unsur pemuda adaa GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, P3S dan Pemuda Pancasila,

Dalam pertemuan tersebut, Pemuda Sapudi, Agus Widiyanto, meminta kepada Forpimka Kecamatan Gayam, dalam memenuhi kebutuhan BBM agar menggunakan Data yang valid bukan hanya sekedar Asumsi.

“BBM ini adalah salah satu urat warga Sapudi dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. jadi jangan sampai harga BBM dipermainkan begini,” katanya kepada awak media. Senin (20/09).

Bahkan kata dia, penyebab mahalnya BBM bukan karena BBM Langka atau kuotanya terbatas, melainkan karena adanya tahapan distribusinya yang panjang dari SPBU ke tengkulak satu ke tengkulak lain yang pada akhirnya harga BBM menjadi mahal

“Fluktuasi itu bukan karna kuota yang tidak cukup akan tetapi yang saya temukan adalah adanya tahapan dari SPBU ke pngecer tahapannya banyak, ada agen satu, agen dua, agen tiga, baru ke pengecer, baru ke konsumen,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Hendi yang juga perwakilan dari Pemuda kecamatan Gayam, membacakan hasil Rumusan Kesepakatan dari pertemuan antara Ormas, Tomas, Tokoh Pemuda yang di adakan pada hari Ahad malam sebelumnya (19/09/2021).

Adapun tuntutan warga, sambung Hendi, berharap di Kepulauan Sapudi itu tidak ada lagi tengkulak atau agen satu, dua, tiga dan seterusnya, agar harga BBM kembali normal sesuai harga nasional.

“Yang pertama tidak boleh ada pengepul, yang kedua ada batasan alokasa kuota maksimal untuk pengecer, yang ketiga SPBU wajib menjual dengan harga Nasional, harga maksimal dari pengecer ke konsumen Rp. 8.000 per liter,” ungkapnya.

Sementara itu, Danramil Kecamatan Gayam, Ardi Sumarjo, mengatakan kita harus patuh terhadap keputusan Presiden terkait harga BBM, yakni sesuai harga nasional.

“Satu harga ya satu harga jangan ada celah walau satu rupiah,” terangnya menegaskan.

Setelah panjang lebar diskusi dengan Forpimka disepakati kesepakatan bersama yang tertuang dalam berita acara diantaranya sebagai berikut.

1. Meniadakan tengkulak (Pengepul) BBM.
2. Harga BBM di SPBU/APMS harus sesuai dengan harga nasional.
3. Harga penjualan BBM jenis Premium dari pengecer ke Konsumen maksimal Rp. 8.000/liter.
4. Pembelian BBM jenis Premium ke pengecer dibatasi.(terlampir)
5. Jam buka dimulai Jam 07.00 sampai 15.00 WIB.

Related posts

Kabupaten Bondowoso Masih Katagori Kabupaten Miskin?

Redaksi

Pertahankan Kearifan Lokal Untuk Kesenian Hadroh Remaja Masjid Al Mahsyar Desa Sumberrejo

Redaksi

Tim Monitoring Tramigrasi Tanbu Kunjungi Pelaksanaan Vaksin di Desa Mekar Jaya Kecamatan Angsana

Redaksi