Deteksi News
Featured Tapal Kuda

Selain Turun Kelas Jadi Negara Menengah Kebawah, Indonesia Sudah Memiliki Utang Rp. 6.074 Triliun

Redaksi – Deteksi News

Deteksinews.co.id – Indonesia resmi turun kelas dari negara berpenghasilan menengah kini menjadi negara menengah ke bawah.

Hal itu diumumkan oleh Bank Dunia di mana Indonesia, kini masuk sebagai negara lower middle Income, alias negara berpenghasilan menengah ke bawah. Hal ini diumumkan oleh Bank Dunia melalui situs resminya per 1 Juli. Pengumuman ini membuat langkah Indonesia menjadi negara maju terhambat, karena penurunan kelas ekonomi.

Menurut keterangan, hal ini disebabkan oleh Pandemi Covid-19 yang berdampak pada ekonomi Indonesia. Pandemi yang terjadi selama hampir 1,5 tahun lebih ini telah membuat Indonesia dilanda krisis hebat.

Indonesia harus berulang kali melakukan upaya pencegahan Covid-19, yang berakibat pada penurunan sektor pendapatan dan ekonominya. Sehingga ini membuat penurunan pendapatan, hingga turun kelas menjadi negara menengah ke bawah.

Menurut keterangan, hal ini disebabkan oleh Pandemi Covid-19 yang berdampak pada ekonomi Indonesia. Pandemi yang terjadi selama hampir 1,5 tahun lebih ini telah membuat Indonesia dilanda krisis hebat.

Indonesia harus berulang kali melakukan uapaya pencegahan Covid-19, yang berakibat pada penurunan sektor pendapatan dan ekonominya. Sehingga ini membuat penurunan pendapatan, hingga turun kelas menjadi negara menengah ke bawah.

Kemudian, Vietnam dan Filipina keduanya memiliki pendapatan 2.700 dollar AS (Rp39 juta) dan 3.400 dollar AS (Rp49 juta) per kapita.

Sementara Malaysia masih unggul dari Indonesia, dan berada di kelas menengah, dengan 10.600 dollar AS (Rp154 juta) per kapita, bersama dengan Thailand 7.100 dollar AS (Rp103 juta) per kapita. Negara yang memiliki pendapatan tertinggi adalah Singapura dengan GNI 54.900 dollar AS (Rp798 juta) per kapita.

Utang menumpuk, Indonesia termasuk 10 Negara utang terbanyak di Dunia Sejak pandemi melanda Indonesia, utang Indonesia terus menumpuk hingga membuat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) khawatir.

BPK khawatir jika pemerintah Indonesia ke depan akan kesulitan membayar utang tersebut. BPK telah mengaudit laporan keuangan pemerintah pusat di era pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) tahun lalu, termasuk penggunaan APBN 2020.

Lembaga auditor tersebut menyatakan kekhawatiran kesanggupan pemerintah dalam melunasi utang plus bunga yang terus membengkak sejak beberapa waktu terakhir.

Ketua BPK Agung Firman Sampurna berujar, utang Indonesia benar-benar membengkak pada era pandemi Covid-19 ini. Pertumbuhan utang dan biaya bunga yang ditanggung pemerintah ini melampaui pertumbuhan PDB nasional.

Dikutip dari Kompas TV pada Rabu (23/6/2021), Agung mengatakan, “Meskipun rasio defisit dan utang terhadap PDB masih di bawah rasio yang ditetapkan dalam Perpres 72 dan UU Keuangan Negara, tapi trennya menunjukkan adanya peningkatan yang perlu diwaspadai pemerintah.”

Lembaganya menyoroti kenaikan utang pemerintah Presiden Jokowi yang melebihi kebutuhan. Ia menjelaskan, realisasi pendapatan negara dan hibah di tahun 2020 sebesar Rp 1.647,78 triliun.

Kemudian realisasi belanja negara sebesar Rp 2.595,48 triliun, sehingga defisit APBN mencapai Rp 947,7 triliun.

Untuk menutupi defisit, pemerintah menarik utang sebesar Rp 1.193,29 triliun. Jumlah itu setara 125,91 persen dari nilai defisitnya. Akibatnya, terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp 245,59 triliun.

Hingga saat ini, jumlah total utang Indonesia sudah mencapai Rp6.074 triliun. Tak hanya itu saja, menurut laporan tahun 2021, Indonesia juga tercatat dalam 10 besar negara dengan utang terbanyak di dunia. Hal itu didasarkan pada International Debt Statistic 2021, versi Bank Dunia (World Bank).

“Peringkat utang luar negeri Indonesia, sebesar 402 miliar dollar AS, dan berada di urutan ke-7 tertinggi di antara negara berkembang lain,” ungkap Bhima Yudhistira, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) pada Februari 2021.

Sebagai acuan berikut ini peringkat utang terbanyak negara-negara di dunia:

1. China (2,1 Triliun dollar AS)

2. Brasil (569,3 Miliar dollar AS)

3. India (560 Miliar dollar AS)

4. Rusia (490 Miliar dollar AS)

5. Meksiko (440,7 Miliar dollar AS)

6. Turki (440,7 Miliar dollar AS).

7. Indonesia (402,082 Miliar dollar AS)

Namun, menurut Bhima, Bank Dunia hanya merangking 120 negara di dunia dengan pendapatan rendah dan menengah.

Sehingga negara di luar kategori kemungkinan tidak dimasukkan dalam rangking tersebut.

Menurut Bhima, dilihat dari jumlah tersebut, jika dibagi dengan penduduk Indonesia maka setiap orang akan menanggung utang hampir Rp21 juta.

Sumber – tribunnews.com

Related posts

Wakapolda Kunjungi Gerai Vaksin Presisi dan Puji Satgas Covid-19 Beltim

Redaksi

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW Bersama Santri TPQ EL HASIQ Badean Bondowoso

Redaksi

Diduga Masuk Angin, Pelapor Proyek P3-TGAI Ancam Demo Kejaksaan Sumenep

Redaksi